Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

Al-Qur'an Dalam Hujatan

Al-Qur'an Dalam Hujatan
 (Oleh : Hasanal Khuluqi)

            Mungkin sudah menjadi resiko sebuah kebenaran al-Qur'an, dihujat, dicaci, dan dilempari dengan tuduhan. Al-Qur'an, firman Allah yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad, ibadah bagi yang membaca,. Ketika al-Qur'an dalam hujatan musuh-musuh Allah, al-Quran dipandang tidak otentik, al-Qur'an dibuat oleh Muhammad serta hujatan-hujatan yang lain yang mendarat kepada al-Qur'an.  Tetapi sebagaimana biasa, hujatan-hujatan itu selalu mendapat jawaban dengan tepat dari Islam. Karena ketepatan jawaban Islam terhadap hujatan-hujatan. Sebagiamana dalam pengantar penerbit kitab "Islam menjawab tantangan", edisi Indonesia dikemukakan, karena ketepatan jawaban Islam terhadap hujatan-hujatan sehingga menimbulkan dua efek : (1) semakin menguatkan iman kaum mukminin, dan (2) semakin menambah kegeraman kaum kafirin dan munafikin yang semakin pusing karena tak pernah menemukan celah untuk menjatuhkan Islam.
            Sepertinya ‘hujatan' terhadap Al-Qur’an tak akan berujung. Ini memang sudah menjadi "sunnatullah", karena Al-Qur'an terus 'menantang' para musuh-musuhnya, agar mereka mampu membuktikan bahwa Al-Qur'an "bukan firman Allah". Tapi nyatanya, setiap langkah yang ingin meruntuhkan Al-Qur'an selalu "gagal" di tengah jalan. Sejak zaman pra-Hijrah di Makkah, orang-orang kafir Quraisy sudah terbiasa "menghujat Al-Qur'an". Di Madinah al-Munawwarah, para "penghujat" Al-Qur'an juga bermunculan. Disambung lagi oleh salah seorang dedengkot "penghujat" Al-Qur'an, Musailamah al-Kadzdzab, hingga hari ini, mereka tidak pernah bosan dan jemu untuk terus "menghujat" Al-Qur'an.
Ketika seorang dosen IAIN Surabaya, yaitu Sulhawi Ruba, menulis lafadz “Allah” di atas secarik kertas kemudian menginjak-injaknya di hadapan para mahasiswanya, jelaslah betapa ekstremnya sikap arogan kaum liberalis terhadap Al-Qur’an. Sulhawi kemudian diskors oleh pimpinan IAIN Surabaya, namun aksinya sudah terlanjur ‘membocorkan’ ekstremisme yang tengah berjangkit di kampus-kampus perguruan tinggi Islam, khususnya IAIN / UIN.
Seakan tidak memberi kesempatan untuk memulihkan diri dari keterkejutan, umat disuguhi pula dengan berbagai aksi vulgar yang menunjukkan secara gamblang arogansi kaum sekuler-liberal (yang, ironisnya, banyak berasal dari kampus-kampus perguruan tinggi Islam) terhadap Al-Qur’an. Seorang doktor yang mengajar di UIN Yogya menyebut Islam sebagai ‘kitab sastra terbesar’, sedangkan Jurnal Justisia dari Fakultas Syariah IAIN Semarang mengumandangkan pendapat bahwa sakralisasi terhadap Al-Qur’an adalah bagian dari konspirasi besar kaum Quraisy Arab. Mereka mengatakan segala hal ini dalam keadaan sadar sepenuhnya, tidak teler, tidak dalam keadaan dipaksa, dan tidak pula salah tulis atau keliru berucap. Sikap arogan semacam ini benar-benar lahir dari ilmu yang mereka benar-benar yakini kebenarannya.
Dengan kenyataan yang saya paparkan diatas, al-Quir'an sebagai obyek hujatan musuh-musuh Allah bukanlah terjadi di abad-abad ini saja, bahkan ketika rosullah Muhammad masih hiduppun sebagai sasaran hujatan. Drs. Abuddin Nata dalam kitabnya, "Al-Qur'an dan Hadits" (Dirsah Islamiyah) mengemukakan bukti-bukti kebenaran Al-Qur'an. Diantara bukti kebenaran al-Qur'an adalah mukjizat al-Qur'an itu sendiri. Yang dimaksud dengan mukjiyat ialah sesuatu yang menjadikan manusia tidak mampu menampilkan hal yang sama. Al-Qur'an menantang manusia dan jin untuk menandinginya sekalipun hanya satu surat sampai muncul kesadaran mereka mengakui kelemahan dan ketidakmampuanya. Ketidakmampuan manusia membuat sesuatu yang sama dengan al-Qur'an menunjukkan bahwa al-Qur'an benar-benar wahyu AllahSWT.
Untuk menjawab penolakan orang Quraisy terhadap al-Qur'an sebagai wahyu Allah, al Qur'an menantang mereka dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : (1). Mendatangkan semisal al-Qur'an, sebagaimana Allah berfirman dalam (QS. al-Isra, 17:88). (2). Mendatangkan sepuluh surat yang menyamai surat-surat yang ada dalam al-Qur'an. Firman Allah SWT, "(QS. Huud, 11:13). (3). Mendatangkan satu surat. Firman allah SWT, "(QS. Yunus, 10:38). Dalam menghadapi tantangan al-Qur'an ini, Musailamah Al-Kadzab yang dianggap mampu menandingi al-Qur'an  mencoba mengubah syair sebagai berikut:

يـَا ضِفـْدَعَ بِنْتِ ضِفـْدَعَيْنِ نـَقِى مَا تـُنَقَّيْنِ أَعْلاكَ فِى المَاءِ وَأَسْفَلكَ فِى الطِّيْنِ
"Hai katak, anak dari dua ekor katak. Bersihkanlah apa yang engkau akan bersihkan, bagian atasmu adalah air dan bagian bawahmu di tanah"
           
Sebagaimana dikemukakan oleh: Dr.phil. M. Nur kholis Setiawan, dalam kitabnya, "Al-Qur'an Kitab Sastra Terbesar", dikarenakan, "kerinduan" para pengkaji dan penikmat susastra al-Qur'an yang dianggap the absolute beauty. Gaya bertutur al-Qur'an yang komunikatif, dan pada saat yang sama sarat dengan symbol, mengundang pesona para pemerhati sastra Arab. Dengan demikian, motif awal pengemar susastra al-Qur'an adalah menunjukkan superioritas susastra al-Qur'an dibandingkan dengan karya-karya susastra non wahyu.
Hujatan terhadap al-Quran tidak berhenti pada zaman Rosulullah saja, bahkan abad-abad berikutnya sampai kini, musuh-musuh Islam makin gencar menyerangnya dengan hujatan-hujatan yang mutakhir, sebagaimana disampaikan oleh DR. Syauqi Abu Khalil dalam kitabnya, "Al-Islam fi Qafshi Al-Ittiham" yang diterjemahkan oleh Nasruddin Ibnu Atha', Lc dalam edisi Indonesia "Islam menjawab Tuduhan". Al-Qur'an mendapat hujatan dari musuh-musuh Islam diantaranya: Al-Qur'an adalah karya besar Muhammad. Hujatan ini bisa dibantah.
Pertama, Gaya bahasa al-Qur'an  yang sangat berbeda dengan gaya bahasa Muhammad, kumudian mengkomparasikany degan Al-Qur'an, tentu kita akan melihat perbedaan yang jelas disemua sisi, baik ekspresi, tema dan sisi lain. Gaya dialog, mengajar dan orasi banyak dijumpai dalam sabda-sabdanya.Disamping penggunaan kata dan makna yang popular di kalangan Arab. Berbeda dengan gaya bahasa Al-Qur'an yang tidak memiliki kemiripan dengan gaya bahasa Arab kebanyakan.
Kedua, mereka membaca buku-buku hadis, akanmerasakan eksistensi sosok manusia, ego yang takut dan lemah di hadapan Allah. Berbeda dengan Al Qur'an yang memamerkan kepada pembacamelalui ayat-ayatnya, ego yang mahaperkasa, mahaadil, mahapencipta, mahakasih, dan kasih-Nya tidak membuat-Nya lemah.
Seandainya Al-Qur'an adalah sabda Muhammad, dapat dipastikan kesamaan antara gaya bahasa Al-Qur'an dan Al-Hadis. Merupakan aksioma dikalangan pakar sastra, ketidalmungkinan seseorang memiliki dua gaya bahasa yang memiliki perbedaan prinsip dalam penuturanya.
Ketiga, Muhammad adalah seorang buta aksara yang tidak pernah bersekolah, sebagaimana firman Allah dalam (QS. Al'Ankabut: 48). Pertanyaanya, mungkinkah sosok Muhammad telah membukukan mukjizat yang memuat hokum paripurna ini tanpa cacat. Kemudian diangguki oleh Barat dan Timur. Muslim dan non muslim. Hingga menjadi salah satu rujukan hokum Eropa. Bagaimana mungkin seorang buta aksara mengkreasi Al-Qur-an dengan kemukjizatan bahasa yang tidak tertandingi dan satu-satunya. Memuat hokum yang komprehensif. Meliputi social, ekonomi, agama, polotik, dan banyak aspek lain.
Keempat, Jika visi Al-Qur'an tentang kosmos, kehidupan, pola piker, interaksi, perang, pernikahan, ibadah ritual, ekonomi dan visi lainya yang kompleks, komprehensif dan solid, benar merupakan kreasi Muhammad, berarti ia bukanlah manusia. Dengan beberapa jawaban yang disampaikan Islam, tidak terbantahkan lagi tuduhan mereka bahwa Al-Qur'an bagian dari kreasi Muhammad, dan ini konspirasi musuh-musuh Allah dan sebuah kebohongan yang besar..

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger