Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

CSRC: "Masjid Pusat Kader Radikalisme"

CSRC: "Masjid Pusat Kader Radikalisme"
(Oleh: Hasanal Khuluqi)

Tumbuhnya kesadaran umat Islam Indonesia dalam menjalankan ajarannya secara  "kaffah", serta mengamalkan ajaran Islam pada tataran kehidupan yang sesuai dengan apa yang telah diajarankan rasulullah kepada sahabat-sahabatnya, seakan menjadi momok atau sesuatu yang membahayakan bagi sebagian umat Islam sendiri.
Salah satu lembaga penelitian Center for Study of Religion and Culture (CSRC), Universitas Islam Negeri ( UIN ) Syarif Hidayatullah Jakarta telah melakukan penelitian dan pemetaan terhadap 10 masjid yang berada di Solo. Dari hasil penelitian ini bahwa, masjid-masjid menjadi sarana penyebaran  idiologi radikal. Sedangkan di wilayah Jakarta menurut CSRC tingkat penyebaran ideology radikal hanya 10% dan sisanya muslim Jakarta telah beralih ke paham moderat. (Republika, Jumat 08/01/2010)
Standarisasi dalam penilaian radikal menurut CSRC yang diungkapkan oleh Irfan Abu Bakar di Republika mengatakan " yang digunakan dalam penelitian ini diartikan sebagai Islam yang menjalankan ajaran Alquran dan hadis secara utuh, tidak toleran, serta memperjuangkan Islam total dan berdirinya kekhalifahan Islam." Sedangkan menurut Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Komaruddin Hidayat, mengatakan, "mereka kelompok radikal yang menggunakan wahana masjid sebagai tempat penyebaran idiologinya disebabkan kelompok tersebut tidak memiliki dana untuk menyewa kantor" (Republika, Jumat 08/01/2010).
Dari statement ini memperlihatkan bahwa sebagian kaum muslimin yang melaksanakan ajaran Islam secara "kaffah" menjadi bahan cemoohan oleh sebagian kaum muslimin sendiri. Mereka sebagian merasa alergi jika mendengar kata Islam diamalkan dalam realitas kehidupan. bahkan melabeli kaum muslimin sebagai kelompok radikal, konservatif, tradisional yang menunjukkan ketertinggalan. Padahal Islam pada zaman Rosulullah adalah untuk diamalkan dan bukan untuk dipertentangkan

Islam vs Pura-pura Islam
Islam memasuki wilayah Indonesia diperkirakan pada abad ke 7 melalui para Gujarat-gujarat India dan Arab yang berdagang di wilayah Indonesia, kemudian para Gujarat-gujarat tersebut berasimilasi dengan masyarakat nusantara. Islam memasuki wilayah nusantara tidak datang melalui sebilah pedang, tetapi Islam memasuki relung jiwa-jiwa masyarakat melalui perdamaian (seni, budaya, bahasa, pendidikan). Tidak ada sejarah yang membuktikan bahwa Islam memasuki nusantara melalui penaklukan dan kekerasan. Islam memasuki wilayah nusantara dengan membawa perdamaian, Islam memasuki nusantara dengan lewat jalur budaya, bahasa dan ilmu pengetahuan.
Setelah beberapa fitnah yang dilontarkan kepada kaum muslimin, kini Islam selalu menjadi bahan pembicaraan oleh orang yang Islam atau yang pura-pura Islam (mendompleng kebesaran nama Islam) dan tak ketinggalan adalah yang benar-benar memusuhi Islam. Adapun tempatnya bervareasi, mulai dari sudut warung-warung kopi dan pasar-pasar, bahkan sampai pada tingkat hotel berbintang diruang aula yang megah yang dihadiri para pejabat berjas dan berdasi seakan mereka menganyam kesepakatan untuk menghilangkan ajaran Islam disetiap bidang. Islam bukan hanya menjadi kajian orang-orang yang berjenggot dan bersarung berkalungkan sorban yang dilaksanakan di ruang masjid atau majelis ta`lim tetapi tema kajian Islam sudah mulai mewabah pada masyarakat luas. Bahkan setiap surat kabar yang beredar tak lepas dari memberikan propaganda-propaganda terhadap umat Islam dan pastinya banyak memushi Islam sebab demi orientasi keuntungan material.
Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad telah banyak membawa perubahan peradaban manusia, mulai dari perubahan ilmu pengetahuan, social, budaya, moralitas dan bertatanegara. Islam yang diajarkan nabi Muhammad pada umatnya bukan hanya berkutat pada wilayah ibadah "mahdoh" tetapi meluas pada setiap segi kehidupan manusia pun menjadi pusat ajarannya. Tetapi kini Islam dipaksa untuk duduk manis dan tenang didalam masjid, surau atau majelis ta`lim. Islam dilarang mengurusi hiruk pikuk urusan dunia (politik, budaya, ekonomi, bernegara, seni). Bahkan sebagian kelompok muslim pun juga menganggap bahwa Islam hanyalah sahadat, sholat, puasa, zakat dan haji.
Islam yang "kaffah" menurut kelompok Islam moderat adalah Islam yang sesuai dengan perkembangan zaman dan berstandarkan Hak Asasi Manusia bukan pada al-Quran dan al-Hadis. Sebab kelompok Islam moderat sangat membeci terhadap umat Islam yang melaksanakan ajaran Islam yang sesuai dengan al-Quran dan al-Hadis. Fatwa yang mereka ikuti bukanlah sahabat dan ulama tetapi mereka lebih mendengarkan fatwa para musuh-musuh Islam.
Jadi sangat disayangkan penggunaan kata yang disandingkan dalam Islam yaitu kata "Radikal" pada kelompok yang berpegang teguh pada ajaran al-Quran dan al-Hadis serta mengikuti jejak para sahabat dan tabi`in mendapati gelar tersebut, sebutan yang sangat memojokkan terhadap Islam sendiri. Ini adalah propaganda dalam menyebarkan virus anti Islam serta melaksanakan politik adu domba sesama muslim. Disadari atau tidak ternyata kata tersebut sudah melekat pada umat Islam dan menimbulkan perang urat saraf bahkan fisik antar umat Islam sendiri.
Sepertinya kata radikal ini hanya pantas untuk musuh-musuh Islam yang melarang umat Islam melakukan ajaran al-Quran dan al-Hadis secara "Kaffah" musuh-musuh Islam terlalu berlebihan dalam melarang umat Islam dalam menjalankan ajarannya, sedangkan mereka semena-mena memporak porandakan umat Islam serta memaksa untuk selalu mengikuti kehendak mereka. Padahal apa yang dipaksakan kepada umat Islam adalah hal-hal vital dan prinsipil yang sangat dilarang dalam agama Islam.

Fungsi Masjid bagi Islam
            Tempat yang satu ini adalah merupakan sebuah keharusan bagi umat Islam. Masjid bagi umat Islam sangat memiliki peranan yang sangat besar bagi pendidikan social bagi kaum muslimin. Masjid pada masa rasulullah adalah sebagai segala pusat kegiatan.
            Masjid adalah tempat bertemunya dan berkumpulnya kaum muslimin disetiap saat. Kurang lebih setiap 5 kali dalam sehari umat Islam berkumpul dan bersama-sama didalam masjid untuk menjalankan ibadah sholat wajib berjamaah. Di masjidlah rosulullah mengajarkan agama Islam kepada para sahabat-sahabatnya.
Masjid pada zaman rasulullah adalah sebagai pusat kajian-kajian keilmuan, mengatur strategi, musyawarah, membangkitkan semangat jihad serta ibadah wajib berjamaah. Bahkan masjid menjadi pusat pemerintahan pada masa rasulullah dalam mengatur negara. Selain itu juga masjid menjadi tempat masyarakat mencari keadilan.
Tetapi pada saat sekarang masjid mengalami penyempitan penggunaan dan makna, masjid hanya dipakai sebagai tempat sholat berjamaah, itupun yang datang untuk melaksanakan sholat jamaah dari kalangan umat golongan tua. Bahkan dari sekian masjid yang ada di wilayah Indonesia mengalami kemajuan shof/barisan jamaahnya alias semakin kosong dari jamaah. Sebab banyak masyarakat muslim sendiri sudah termakan dengan dogma harta adalah kesenganan yang perlu diperjuangkan dan dipuja-puja.
Dari fenomena inilah kemudian muncul kelompok-kelompok yang ingin memakmurkan masjid seperti pada zaman rasulullah, sahabat dan tabiin. Kelompok-kelompok tersebut membentuk kegiatan-kegiatan pengajian serta kajian-kajian keislaman. Kelompok tersebut bukan hanya memanfaatkan masjid sebagi tempat ibadah, tetapi lebih dari itu.


Kemunculan Radikal di Indonesia
            Keberaneka ragaman budaya, watak dan bentuk yang dimiliki bangsa Indonesia memiliki peranan dalam pembentukan kelompok-kelompok Islam di Indonesia. Walaupun banyak factor lain yang mendukung pergerakan-pergerakan Islam di Indonesia. Pergerakan keislaman di Indonesia banyak dipengaruhi dari kelompok gerakan yang muncul di Mesir, Pakistan, Afganistan dan Arab Saudi. Dari negara-negara inilah pergerakan keislaman terlahir.
            Tahun 1980 an adalah tahun lahirnya bayi-bayi gerakan keislaman Indonesia dari kaum intelektual. Dan dari gerakan inilah nantinya akan melahirkan kata "radikal" di Indonesia. Diantara gerakan-gerakan keislaman yang lahir adalah Hizbu Tahrir Indonesia, gerakan Tarbiyah, Gerakan Salafi dan masih banyak gerakan-gerakan yang lainnya yang muncul dari intelektual kampus.
            Kata radikal dapat diartikan adalah sebuah gerakan yang ingin merdeka dari keterkungkungan kekuasaan dan ingin kembali kepada akar yang ada. Dan biasanya kelompok ini " radikal" bagi kelompok lawan, dinamai dengan kelompok kiri atau ektrem. Sebab kelompok ini selalu melawan dan ingin mengambil alih secara "paksa"
            Jadi kemunculan kelompok gerakan keislaman Indonesia di barengi dengan kemunculan kata radikal. Dan kata radikal ditempelkan pada kelompok-kelompok gerakan yang ingin mengambil kekuasaan pemerintah yang sah. Kata ini selain memberikan penilaian yang negative pada gerakan tersebut serta berfungsi untuk memberikan ruang yang sempit di dalam masyarakat. Sebab masyarakat akan menganggap bahwa kelompok radikal adalah kelompok yang salah dan harus diberantas. Sebab gerakan tersebut oleh pemerintah diberikan merk radikal dan kata tersebut bermakna negative.
            Padahal kelompok-kelompok tersebut ingin mengembalikan dan mengajak kepada ketauhidan yang kembali pada quran dan sunnah yang akan mengambil hak-haknya. Jika kelompok tersebut ingin terbebas dari kungkungan kekuasaan Barat dengan konsep kehidupan yang "amburadul", alangkah salahnya orang-orang yang melabeli kelompok-kelompok tersebut. Apalagi ada yang lebih parah, mengartikan bahwa radikal adalah kelompok yang mengajak kembali kepada quran dan sunnah kemudian dianggap itu salah.
            Islam jika tidak perpedoman pada Quran dan sunnah akan berpegang pada apa? Apakah Hak Asasi Manusia yang diagung-agungkan dapat membawa manusia pada tingkat perdamaian? Jika memang iya, kenapa Amerika sebagai komando HAM sering melanggar kesepakatan tersebut? Palestina yang tak berujung yang gigempur habis-habisan oleh Israel, irak diporak porandakan AS demi penguasaan minyak bumi dan negara-negara yang lain.
            Mungkin, lebih pantas jika kata radikal adalah untuk disandingkan kepada kelompok-kelompok yang selalu mengagung-agungkan HAM dan kemudian tidak melaksanakan kesepakatan.
           

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger