Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

DAMPAK DAN BAHAYA PEMIKIRAN BARAT

DAMPAK DAN BAHAYA PEMIKIRAN BARAT
(Oleh: Hasanal Khuluqi)

Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akan pernah rela kepadamu hingga kamu mengikuti millah mereka…” (QS. Al Baqarah: 120(

Upaya Barat memerangi Islam tidak akan pernah berhenti. Dari dahulu sampai sekarang tetap berlangsung. Mereka tidak pernah menyerah, berbagai cara mereka lakukan.
Kekalahan telak pasukan Nashrani pada perang salib tidak membuat mereka jera. Berabad-abad takluk dibawah kekuasaan dan hegemoni Islam kini mereka menunjukan gaya perang baru yang lebih mutakhir, lebih sistematis dan terencana. Yaitu dengan cara perang pemikiran (ghazwu al-fikri). Hal ini terbukti dengan adanya statemen dari para petinggi di barat.
Mantan Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowitz mengatakan, "Saat ini, kita sedang bertempur dalam perang melawan teroris, perang yang akan kita menangkan. Perang yang lebih besar kita hadapi adalah perang pemikiran, ini jelas merupakan tantangan, namun akan juga kita menangkan" kemudian statemen mantan perdana menteri Inggris Gleed Stone mengatakan ”percuma memerangi umat islam, kita tidak akan mampu selama di dada pemuda islam masih ada Al Qur’an dan As Sunnah, tugas kita adalah mencabut Al Qur’an dan As Sunnah di hati mereka, baru kita menang dan menguasai mereka".
Perang pemikiran ini sebenarnya bukan hal baru didalam khazanah peradaban Islam, sejarah mencatat berbagai peristiwa terjadi berkenaan dengan hal ini. Keruntuhan Khilafah Utsmaniyah di Turki merupakan salah satu bukti perang pemikiran ini.
Kemudian seiring berjalannya waktu, Barat dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya mencetak kader-kader missionaris dan orientalis yang merasuk dan menyusup kedalam khazanah peradaban dan pemikiran Islam. Berbagai penelitian dan tesis mereka hasilkan, dengan metodologi Barat mereka menghasilkan berbagai kajian tentang Islam yang tentu saja sangat jauh dari kebenaran. Tidak cukup dengan mengadakan penelitian-penelitian, mereka juga membuat lembaga-lembaga Islamic Study, yang sengaja mereka persiapkan untuk mendidik generasi muda Islam, mereka mencuci otak generasi muda Islam dan memasukan ideologi mereka. Sehingga menghasilkan pemikir-pemikir muda Islam yang berpikiran liberal.
Barat memang piawai dalam hal ini. Melalui lembaga-lembaga Islamic Studies Barat berhasil mencetak generasi muda Islam yang berideologi Barat. Mereka inilah yang menyebarkan faham liberalisasi dan pluralisme di dunia Islam.
            Dari hasil didikan Barat ini, di Timur Tengah tercatat nama-nama pemikir sekuler, diantaranya adalah Rifa'at Beik Ath-Thahtawi, Thaha Husein, 'Ali 'Abdurraziq, Mahmud Abu Rayya, Ahmad Amin, Nashr Hamid Abu Zaid, Mohammad Arkoun, Abdullah An-Na'im, Muhammad Said Al-Asymawi dan lain-lain. Mereka melemparkan isu kontroversial dalam berbagai bidang keislaman, dari mulai bidang pemikiran, politik, sosial dan bahkan bidang-bidang keagamaan, mereka berusaha mempermasalahkan kembali konsep-konsep yang telah mapan dan menjadi konsensus para ulama islam, bahkan mereka tidak segan-segan meluncurkan ide dekontruksi Epistemologi Islam.
Tidak hanya di Timur Tengah, Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim menjadi sasaran perang pemikiran ini, melalui didikan barat tercatat beberapa nama tokoh pemikir sekuler, seperti Nurkholis Majid, Harun Nasution, Amin Abdullah, Ulil Abshar Abdalla dan sederetan nama lainya yang gencar sekali mengkampanyekan liberalisasi dan sekularisai. Hal ini terbukti dengan munculnya ide dan gagasan mereka yang menyimpang dari ajaran Islam bahkan memutarbalikan fakta yang ada, merombak hal-hal yang bersifat qath'i, Menggugat otentisitas Al-Qur'an, menganggap Al-Qur'an sebagai produk budaya (muntaj ats-saqafi), meragukan keabsahan hadits Nabi dan mencerca ulama-ulama salaf serta karya-karya fenomenal mereka. Sebagai contoh, munculnya wacana pluralisme, kawin lintas agama, kawin sesama jenis, haramnya poligami, persamaan hak waris antara laki-laki dan perempuan dan lain sebagainya.
            Metodologi analisis yang mereka gunakan mempunyai ciri khas, mengenai hal ini Prof. Dr. Musthafa As-Siba'i dosen di Universitas Al-Azhar Kairo memaparkan ciri-ciri khas analisis mereka diantaranya, sebagai berikut:
  1. Berprasangka buruk dan salah mengerti tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan Islam, baik tujuan dan motifnya.
  2. berprasangka buruk terhadap tokoh-tokoh Islam, ulama, dan pembesar-pembesar mereka.
  3. menggambarkan masyarakat Islam sepanjang sejarah -khususnya periode pertama itu- sebagai masyarakat yang terpecah belah dan individualisme.
  4. menggambarkan peradaban Islam secara tidak realistis dengan mengecilkan serta meremehkan peninggalannya.
  5. tidak memahami watak masyarakat muslim yang sesungguhnya; mereka hanya mengambil kesimpulan seputar "rumah tangga" dan tradisi bangsa-bangsa muslim.
  6. memperlakukan informasi (teks) ilmiah menurut kemauan mereka sendiri.
  7. memutarbalikan nushush (teks) dengan sengaja. Jika tidak menemukan celah-celah untuk diselewengkan, mereka mendistorsi makna yang ada.
  8. menggunakan referensi semaunya untuk dijadikan sumber nukilan, misalnya menjadikan buku-buku sastra sebagai rujukan untuk mengetahui sejarah hadits dan menggunakan literatur sejarah untuk menentukan sejarah fiqih.
            Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwasannya teori dan tesis yang mereka hasilkan sangat berhahaya sekali bagi Islam, karena dapat merombak hal-hal yang telah mapan, sehingga semuanya akan menjadi relatif dan tidak absolut mutlak. Lebih lengkapnya DR. HM Afif Hasan M.Pd Pengasuh PP. An-Nuqayah Sumenep Madura memaparkan bahaya perang pemikiran ini bagi peradaban Islam. Dampak dan bahaya tersebut adalah:
  1. Desakralisasi atau penyingkiran sesuatu yang berbau sakral. Pada gilirannya bahasa arab adalah bahasa budaya bukan bahasa agama. Jilbab adalah budaya Arab dan lain sebagainya.
  2. Reduksionisme, keabsolutan Agama menjadi relatif (relativization) agama bisa diubah, syari'ah tidak lagi menjadi penuntun manusia, Al-Qur'an harus disesuaikan dengan zaman dan budaya, bukan sebaliknya.
  3. Keragaman atau Pluralisme formalitas,  yaitu runtuhnya perbedaan dan karakteristik realitas yang beragam termasuk agama dan keberagamaan
  4. Terminasi Agama, (kematian/berakhirnya agama) yang berwujud sekularismedan skeptisme, yang akan menimbulkan: Semakin longgar menjalankan syari'at islam, rasa keberagamaan semakin menipis, tidak memiliki ghirah islamiyah, tidak memiliki rasa pembelaan terhadap islam dan hilangnya tanggung jawab penegakan amar ma'ruf dan nahi munkar.
  5. Ancaman terhadap HAM,  seperti larangan berjilbab, larangan mengenakan simbol agama dan lain sebagainya.
  6. Ancaman mengerikan terhadap tragedi kemanusiaan.

            Demikianlah paparan mengenai perang pemikiran Barat, yang mereka lancarkan terhadap Islam, propaganda, hegemoni dan program-program yang sistematis dan terencana tentunya harus kita tanggapi dengan serius,  jika mereka berhasil membaratkan intelektual muda Islam, maka sudah menjadi kewajiban kita sebagai generasi muda Islam untuk menghadang pergerakan mereka di garda terdepan dan mencounter serta menyiapkan generasi muda Islam yang memiliki kapasitas dan kemampuan untuk menjawab tantangan pemikiran barat. Wallahu a'lam bisshawab.


0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger