Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

Fiqh Waqi' Al-Qaradhawi

Fiqh Waqi' Al-Qaradhawi
(Oleh.Hasanal Khuluqi)
Muqaddimah            
Sejak abad pertengahan, peradaban Eropa mulai bangkit dari keterpurukan dan berusaha membangun peradaban baru dengan 'bahan material' nilai-nilai peradaban Islam yang ada pada saat itu. (Hamid Fahmi Zarkasyi, "Akar Kebudayaan Barat"). Setelah peradaban Islam mengalami kemunduran, peradaban Barat mengalami kemajuan pesat seakan mengambil alih kejayaan peradaban Islam. Kemajuan peradaban Barat berlangsung hingga era modern tanpa ada rival yang berarti selain Komunisme. Namun sejak keruntuhan Komunisme, Barat kembali sebagai penguasa tunggal dalam percaturan politik dunia. Hegemoni Barat pun pun semakin terasa bagi masyarakat dunia. Peradaban Barat dengan segala ideologi yang terkandung di dalamnya tentunya juga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap dunia Islam dan kaum muslimin, mulai dari pola fikir hingga gaya hidup. Tekanan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Islam yang memiliki prinsip-prinsip yang berbeda dengan nilai-nilai peradaban Barat.
            Kendati demikian, Islam harus tetap mempertahankan identitas keislamannya. Namun di sisi lain, Islam mau tidak mau harus mengakui perkembangan zaman. Sikap yang diberikan kaum Muslimin pun sangat variatif yang semuanya tidak bisa menjadi representasi sikap Islam terhadap Barat.
            Dalam hal ini, Muhammad Amin Asy-Syinqiti menyebutkan empat macam sikap masyarakat dunia dan umat Islam terhadap kemajuan peradaban barat; pertama,
Meninggalkan semua nilai-nilai barat, baik yang bermanfaat maupun yang berbahaya. Kedua, mengambil semua nilai-nilai barat, baik yang bermanfaat maupun yang berbahaya. Ketiga, Mengambil nilai-nilai barat yang berbahaya dan meninggalkan yang bermanfaat. Keempat, Mengambil nilai-nilai barat yang bermanfaat dan meninggalkan yang berbahaya. (Asy-Syinqiti, Muhammad Amin, Adhwa' Al- Bayan fi Idhah Al-Qur'an bi Al-Qur'an).
Hamid Fahmi Zarkasyi menyebutkan pernyataan serupa tentang sikap dan pandangan kaum Muslimin terhadap peradaban Barat; pertama, kalangan awam yang memiliki persepsi dominan bahwa Barat adalah simbol kemajuan teknologi, karena itu segala yang berasal dari Barat dapat diterima sebagai standar untuk menentukan kemajuan. Kedua, kalangan muslim terpelajar yang menganggap Barat sebagai simbol kecanggihan metodologi penelitian dan pengkajian. Kelompok ini pada umumnya menganggap ilmu itu netral dan oleh karenanya mengambil ilmu apapun dari Barat tidak ada masalah asal membawa "kemajuan". Ketiga, kelompok yang melihat Barat sebagai bangsa penjajah yang harus dimusuhi dan segala sesuatu yang berasal dari Barat harus ditolak. Keempat, kelompok yang melihat Barat secara kritis, obyektif, tidak apresiatif secara gelap mata, bagi kelompok ini Barat adalah peradaban asing yang berbeda dengan Islam dalam banyak hal. Tidak semua dari barat itu baik, dan tidak semuanya pula buruk. (Hamid Fahmi Zarkasyi, "Memahami Barat" dalam Jurnal Islamia, vol III no.2 th 2007).
Karakter Syari'at Islam
            Kondisi zaman modern yang cenderung menekan, menuntut umat Islam untuk selalu bersikap realistis dan normatif. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Islam yang menyandang julukan shalihun li kulli zaman wa makan (relevan untuk semua zaman dan tempat). Untuk menjaga citra itu, maka para ulama Mujtahid pada zaman ini ketika akan mengambil sebuah kesimpulan hukum fiqih, disamping harus mengetahui nash-nash syar'i mereka juga dituntut untuk memahami secara utuh karakteristik zaman sehingga kesimpulan hukum yang dihasilkan dapat diamalkan sesuai dengan tuntunan syar'i dan sekaligus realistis dengan kondisi zaman.
            Untuk menjawab tantangan itu, Islam telah memiliki modal dengan  prinsip syari'atnya yang Hanifiyah As-Samhah (konsisten dan toleran), sesuai dengan fitrah manusia, ringan, mudah, proporsional, dan balance. (Ibnu Qayyim Al-Jawziyah, I'lam Muwaqqi'in 'an Rabb Al-'Alamin) Dengan  demikian relevansi Islam akan tetap terjaga hingga hari akhir tanpa menghilangkan prinsip-prinsip syar'i yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Namun bukan berarti selalu mengandalkan prinsip-prinsip tersebut, kemudian meninggalkan teks-teks syar'i dan kaidah-kaidah yang sudah baku (Tsawabith) serta bersikap memudah-mudahkan dan meremehkan urusan agama. Banyak ayat Al-Qur'an maupun hadits Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan tentang keunikan dan kemudahan syari'at Islam. Seperti firman Allah Azza wa Jalla,  "Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan".(QS. Al-Hajj : 78). Begitu juga dengan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya agama itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulit diri dalam agama kecuali dia akan dikalahkannya“. (HR.Bukhari).
            Sifat Hanifiyah As-Samhah syariat Islam ini sangat dibutuhkan oleh umat manusia terutama pada zaman modern saat ini, di saat sarana teknologi dan komunikasi berkembang begitu pesatnya, umat manusia banyak disibukkan dengan urusan dunianya sehingga dengan kondisi seperti itu banyak memunculkan permasalahan-permasalahan baru yang belum pernah ditemukan pada zaman-zaman sebelumnya.
                       
Fiqih Al-Qaradhawi
Di antara ulama dan pemikir Islam kontemporer yang memiliki perhatian dalam masalah-masalah kontemporer adalah Yusuf Al-Qaradhawi, seorang ulama kelahiran Mesir yang sangat terkenal dalam dunia Islam modern dan banyak memberikan kontribusi terhadap Islam melalui karya-karyanya yang monumental, terutama dalam bidang fiqih Islam kontemporer.
Untuk merespon permasalahan dan memahami kebutuhan yang muncul dari realitas kehidupan umat Islam di zaman modern, Al-Qaradhawi menawarkan sebuah formulasi baru dalam kajian fiqih dengan nama Fiqh Waqi' (fiqih realitas). Selain alasan di atas, menurut Al-Qaradhawi sejak tahun 60-an berkembang dua gaya pemahaman fiqih dalam tubuh umat Islam; sikap berlebihan (ifrâth) dan sikap meremehkan (tafrîth). Sikap berlebihan, seperti fanatik terhadap madzhab tertentu dan tidak mengakui pendapat lain. Sebaliknya, sikap meremehkan seperti sikap kaum liberal yang berfatwa tanpa landasan agama dan hanya mengikuti hawa nafsu. Karena itu, perlu dihidupkan prinsip moderat (tawassuth) yang berintikan pada dua prinsip; pertama, berasaskan kemudahan (taysîr) dan kabar gembira. Kedua, memadukan antara salafiyah dan pembaruan (tajdîd). (Al-Qaradhawi, Fiqih Peradaban: Sunnah Sebagai Paradigma Ilmu Pengetahuan, 1997: 291-313).  
            Di antara aplikasi konsep Fiqh Waqi' Al-Qaradhawi, bolehnya membayar zakat dengan uang tunai sebagai penggantinya dalam Zakat Maal maupun Zakat Fitri. Menurut Al-Qaradhawi, surat At-Taubah : 103 merupakan perintah untuk mengambil zakat secara umum dari harta orang-orang kaya, sedangkan uang adalah bagian dari harta mereka. Adapun penjelasan Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam dari keumuman ayat di atas, "Dalam setiap 40 ekor domba, maka zakatnya satu ekor", hanyalah untuk memudahkan bagi para pemilik domba dan bukan sebuah ketentuan yang bersifat wajib. Karena para pemilik domba pada zaman itu jarang sekali memiliki uang sehingga membayar zakat dengan apa yang ada pada mereka terasa lebih mudah. Pendapat ini dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari no. 1448 secara Mu'allaq dari Thawus yang juga diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam kitabnya As-Sunan Al-Kubra, Mu'adz bin Jabal Radhiyallahu 'anhu berkata (kepada orang-orang Yaman) ketika di Yaman, "Berikanlah kepadaku pakaian (gamis) yang bisa saya ambil dari kalian sebagai pengganti zakat, karena itu lebih mudah bagi kalian dan lebih bermanfaat bagi kaum Muhajirin di Madinah". Menurut Al-Qaradhawi, hal ini lebih realisitis dan lebih cocok dengan kondisi zaman ini serta lebih mudah dalam perhitungannya bagi lembaga pengurus zakat. Karena jika zakat dikeluarkan sesuai dengan jenis barangnya maka hal itu akan menambah biaya operasional pengelolaannya, seperti biaya untuk mengangkut barang dari tempat Muzakki ke tempat penampungan harta zakat, biaya perawatannya, biaya makanan dan minumannya jika harta zakat tersebut berupa hewan ternak. (Qaradhawi, Fiqh az-Zakah).
 
Pro dan Kontra
            Konsep Fiqh Waqi' Al-Qaradhawi ini banyak mendapatkan apresiasi dan respon positif dari kaum muslimin di seluruh dunia, fatwa-fatwa Al-Qaradhawi pun banyak menjadi rujukan dan inspirasi kaum muslimin terutama dalam masalah-masalah kontemporer. Al-Qaradhawi juga dipercaya sebagai dewan fatwa atau dewan syari'ah dalam lembaga-lembaga keislaman hingga lembaga keuangan dan perbankan di berbagai negara termasuk di Eropa.
            Namun tidak sedikit pula dari kalangan para ulama yang memberikan kritik terhadap konsep Al-Qaradhawi dan fatwa-fatwanya yang dihasilkan dari konsep tersebut. Di antara para ulama yang mengkritik Al-Qaradhawi adalah Syaikh Nashiruddin al-Albani (Muhaddits Al-'Ashr) dalam bukunya Ghâyah al-Marâm fî Takhrîj Hadîts al-Halâl wa al-Harâm sebagai koreksi atas keshahihan hadits-hadits yang digunakan Al-Qaradhawi dalam bukunya al-Halâl wa al-Harâm fî al-Islâm. Shalih bin Fawzan dalam bukunya Al-I’lam bi Naqdi Kitab Al-Halal wa Al-Haram (kritik terhadap buku Al-Qaradhawi, al-Halâl wa al-Harâm fî al-Islâm). Abdullah bin Ibrahim Ath-Thawil dalam beberapa bagian bukunya Manhaj At-Taysir Al-Mua'ashir, dan Sulaiman bin Shalih Al-Kharasyi dalam bukunya Al-Qaradhawi fi Al-Mizan.

Khatimah
Kontribusi Al-Qaradhawi dalam fiqih Islam ini tidak akan pernah dilupakan. Al-Qaradhawi mampu memberikan nuansa baru dalam fiqih Islam dan mencairkan kebekuan umat Islam dalam menghadapi realitas zaman, sehingga ia dapat diterima oleh seluruh lapisan kaum muslimin dan mampu memberikan jawaban bagi permasalahan-permasalahan umat Islam di zaman modern ini. Kendati demikian, seorang muslim yang baik adalah orang yang  selalu berpegang kepada dalil yang benar dan hujjah yang kuat sebagai parameter dan pedoman untuk mengetahui yang haq, dan tidak layak baginya mengikuti suatu pendapat hanya karena kemasyhurannya dan banyak pengikutnya. Dan hendaknya juga melihat pendapat-pendapat para ulama yang lain untuk memilih pendapat yang rajih serta tidak terikat kepada pendapat atau madzhab tertentu.


  

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger