Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

ISLAM DAN FEMINISME


ISLAM DAN FEMINISME
(Oleh: Hasanal Khuluqi)
Pada era reformasi, gaung feminism menemukan momentumnya untuk mengadakan perubahan di segala bidang, termasuk dalam bidang relasi gender. Istilah ketimpangan gender sudah menjadi bahasa baku yang artinya pasti dikaitkan dengan kondisi perempuan yang terpuruk, tertinggal, tersubordinasi, dan istilah lain yang sejenis. Alasannya sangat logis. Perempuan adalah sumber daya manusia yang jumlahnya besar, bahkan di seluruh dunia jumlahnya melebihi pria. Akan tetapi jumlah perempuan yang berpartisipasi di sector public selalu berada jauh di bawah pria, terutama di bidang politik. Hal ini tidak hanya terjadi di indonesia, tetapi bersifat mendunia. Oleh karena itu, mainstream agenda feminis adalah bagaimana mewujudkan kesetaraan gender secara kuantitatif, yaitu pria dan wanita harus sama-sama (fifty-fifty) berperan baik di dalam maupun di luar rumah.[1]
Menurut Indriani Bone, seperti yang dikutip oleh Muhammad Muslih, hampir seluruh argumen dalam kajian gender berawal dari suatu asumsi, bahwa perbedaan gender, bahkan ketidaksetaraan gender antara laki-laki dan perempuan terjadi melalui proses sejarah yang panjang dan dibentuk, disosialisasikan, diperkuat dan dikonstruksi secara sosial dan kultural, termasuk melalui tradisi keagamaan. Sebagaimana sifat tradisi dan kebiasaan lainnya, proses panjang pembentukan gender, pada umumnya juga sebagai suatu proses yang tidak disadari sehingga dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya natural, kodrati dan ketentuan tuhan.[2]
Berbicara masalah feminisme adalah berbicara tentang laki-laki dan perempuan, bagaimana kedudukan mereka dalam masyarakat, apakah ada ketidakadilan yang diterima oleh perempuan ataukah laki-laki yang memegang kendali secara penuh. Menurut Kamla Bashin dan Nighat Said Khan, dua orang feminis dari Afrika Selatan, seperti yang dikutip oleh siti Muslikhati, “tidak mudah untuk merumuskan definisi feminisme yang dapat diterima atau diterapkan kepada semua feminis di semua tempat dan waktu. Karena definisi feminisme berubah-ubah sesuai dengan perbedaan realitas sosio-kultural yang melatarbelakangi kelahirannya serta perbedaan tingkat kesadaran, persepsi, serta tindakan yang dilakukan para feminis itu sendiri”.[3]
Seperti yang sudah ma’ruf, feminism muncul karena ketertindasan, ketidakadilan yang dialami oleh perempuan. Padahal, kalau kita berpikir lebih positif maka akan kita dapatkan banyaknya kaum laki-laki yang juga tertindas, yang tidak memperoleh keadilan dan lain sebagainya. Tapi opini yang berkembang di dalam masyarakatlah yang membuat kesan bahwa yang tertindas hanya kaum perempuan, padahal kenyataannya tidak sperti itu. Meskipun kita tetap sepakat bahwa perempuan menempati presentase masalah yang lebih besar.
Kalau kaum feminis hanya menginginkan keadilan, atau kebebasan agar tidak tertindas, atau status sosial yang setara dengan laki-laki, mereka akan mendapatkannya dalam Islam. Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, kaum feminis menginginkan lebih dari itu. Mereka benar-benar menginginkan agar berdiri sejajar dengan laki-laki dalam segala aspek kehidupan, walaupun harus melanggar kodrat mereka sebagai perempuan. Yang sangat memprihatinkan adalah, masuknya virus feminisme ke dalam pikiran muslimah. Sehingga sangat banyak muslimah yang menginginkan disetarakan dengan laki-laki, hampir dalam segala aspek kehidupan. Dalam warisan, keluarga, kehidupan bermasyarakat dan sebagainya.
Berkaitan dengan ini, Adian Husaini dalam bukunya mengatakan “para feminis di kalangan kaum muslim menjiplak paham-paham barat modern tentang kesetaraan gender”.[4] Jelaslah bahwa apa yang terjadi dengan muslimah kita saat ini adalah akibat dari paham-paham barat yang masuk merasuki kaum muslim. Artinya, isu feminisme dan kesetaraan gender telah masuk ke dalam pemikiran dan keilmuan Islam.
Menurut Muhammad Muslih, dalam kaitannya dengan pemikiran dan keilmuan Islam, “dekonstruksi syari’ah” merupakan agenda tak terpisahkan dari wacana gender ini, di samping agenda-agenda yang lain. Agenda ini dimulai dengan asumsi bahwa pemikiran dan keilmuan Islam serta kitab-kitab keilmuan Islam hampir semuanya dikarang oleh laki-laki, sehingga bias gender prasangka dan kepentingan jenis laki-laki boleh jadi sangat mewarnai pembahasanya. Katanya, seandainya pakar-pakar keislaman itu perempuan dan dapat mengembangkan sebuah pemikiran keislaman, meskipun dengan nash yang sama, boleh jadi hasilnya akan sangat berbeda dengan pemikiran yang ada sekarang.[5]
Inilah fakta yang muncul di kalangan perempuan sekarang, yang sekarang mereka lakukan hanyalah “berandai-andai”. Sampai datang waktunya mereka akan mengatakan “kalau saja nabi itu permpuan, bukan laki-laki...” dan lain sebagainya.
Lantas, bagaimana Islam memandang feminisme? Seperti yang disebutkan di atas, gerakan fiminisme yang melanda umat Islam saat ini tidak lain karena taklid buta terhadap Barat, padahal barat-pun tidak berhasil dengan ide femininsme yang mereka agung-agungkan. Merka yang tadinya menginginkan agar disejajarkan dengan laki-laki dalam segala hal ternyata tidak mampu juga melawan kodrat mereka yang telah ditetapkan oleh Allah.
Dalam hal ini, Muslikhati mengatakan “satu-satunya sistem kehidupan yang komprehensif, harmonis dan selaras dalam mengatur masyarakat yang terbebas dari tumpang tindih , pandangan yang parsial, standar yang ambigu, adalah sistem kehidupan yang ditetapkan oleh sang pencipta, Allah swt...[6]
Kestaraan gender yang ditawarkan oleh para kaum feminis adalah sesuatu yang tidak perlu diperjuangkan dalam Islam. Karena dalam Islam, laki-laki dan perempuan memang memiliki kesetaraan dan tidak ada perbedaan, karena mereka sama-sama hamba Allah, yang nantinya membedakan mereka dihadapan Allah adalah Taqwa. Wallahu ta’ala a’lamu bisshawab...


[1] Siti Muslikhati, Feminisme dan Pemberayaan Perempuan dalamTimbangan Islam (jakarta: Gema insani press, 2004) hlm.13
[2] Muhammad Muslih, Bangunan Wacana Gender (jakarta: CIOS, 2007) hlm.3
[3] Siti Muslikhati, Femininsme dan pemberdayaan... hlm 18
[4] Adian Husaini, Virus Liberalisme di Perguruan Tinggi Islam (jakarta: Gema Insani Press, 2009)hlm.94
[5] Muhammad Muslih, Bangunan wacana Gender... hlm.18
[6] Siti Muslikhati...hlm.78

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger