Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

KETIKA KAUM FEMINIS MENJADI MUFASIR

KETIKA KAUM FEMINIS MENJADI MUFASIR 
(Oleh: Hasanal Khuluqi)


Menurut Henri Shalahudin, anggota peneliti INSIST Jakarta, dalam artikelnya yang pernah diampaikan dalam acara Pelatihan Pemikiran Islam di Muhammadiyah Krakatau Steel Cilegon pada tanggal 2 September 2007, perasaan inferior wanita muslimah dalam berinteraksi dengan ideology Barat, khususnya tentang cara memaknai istilah-istilah yang berkenaan dengan keadilan, rasional, dan HAM, mengakibatkan, ajaran Islam seringkali dipaksa untuk berkompromi dengan realitas yang berkembang di masyarakat. Maka muncullah studi Islam perspektif gender, tafsir feminis, Syariat berbasis HAM, dll. Bukan sebaliknya gender dalam perspektif Islam, feminis dalam al-Quran, atau HAM berbasis Syariat.
Yang menjadi pusat kajian mufasir feminis atau sering disebut dengan tafsir emansipatoris adalah ayat-ayat ataupun hadits yang dinilai tidak memihak kaum perempuan (misoginis). Dengan segala upaya dan dibantu dengan dana yang tidak sedikit, proyek besar ini mampu melenggang dalam paradigma global. Biasanya mereka menimbang kembali dengan metode hisitoris dan sosiologis dengan penggunaan akal sebagai asas dan landasan utamanya. Penggunaan metode yang meniscayakan adanya kontekstualitas wahyu berbasis realitas. Sehingga wahyu pun harus tunduk mengikuti realitas sejarah. Karena wahyu dan agama Islam dipandang sebagai bagian dari produk sejarah dan budaya. Tujuannya agar apa yang mereka inginkan tercapai.
Ajaran Islam yang sudah mapan selama beberapa abad dikoreksi ulang agar selaras dengan keinginannya. Diantaranya adalah konsep tentang penciptaan kaum Hawa yang tercipta dari tulang rusuk kaum Adam, kepemimpinan dalam Islam, pembagian harta waris, ajaran Islam tentang saksi dan wali nikah, kambing aqiqah untuk bayi wanita harus satu sedangkan laki-laki dua ekor, wanita harus izin suami ketika hendak keluar rumah dan puasa sunnah, imam dan muadzin serta khotib harus laki-laki, pengasuhan dan menyusui anak, dan masih banyak lagi term-term kajian mereka. Ajaran-ajaran tersebut dinilai mengandung unsur misoginik yang bisa mendiskreditkan kaum wanita.
Pengkoreksian ulang tidaklah salah, bahkan sangat diperlukan guna transparasi keilmuan dalam metode yang digunakan oleh mufasir terdahulu. Namun, karena latar belakang munculnya gerakan feminis ini terinspirasi oleh trauma sejarah Barat yang berbeda sama sekali cara pandangan hidupnya (worldview) dengan peradaban Islam, dengan pembacaan yang sangat dramatis, mereka seringkali memasang kuda-kuda prasangka buruk terlebih dahulu sebelum memulai pengkoreksian ulang tafsir klasik. Kondisi seperti ini mengakibatkan, mufasir feminis acapkali gegabah dan serampangan dalam menafsirkan nash-nash al-Quran atau Hadits yang dinilai sangat merugikan kaum perempuan.
Ada beberapa tindakan gegabah yang perlu dinetralisir, yaitu; pertama, mereka sering terjebak dalam hal sudut pandang. Dalam mendudukan wacana relasi gender antara laki-laki dengan perempuan sering menggunakan sudut pandang yang sempit dan tidak objektif. Misalnya, perempuan dijadikan budak, ternyata laki-laki pun banyak yang dijadikan budak, bahkan juga anak-anaknya, sekalipun kebanyakan oleh kaum laki-laki. Tentunya bukan hanya masalah perbudakan yang memerlukan perspektif lebih luas bahkan global. Dalam persoalan pembagian harta waris, kaum feminis juga masih saja menggunakan sudut pandang perempuan. Padahal jika dicermati dari sudut pandang keduanya maka persoalan pembagian harta waris adalah suatu hal yang wajar karena tanggung jawab laki-laki (seharusnya) lebih berat, lebih cermat lagi malah kaum perempuan yang diuntungkan.
Apabila gerakan tafsir feminis disepakati sebagai perlawanan terhadap budaya patriakhi, maka suku-suku yang menganut matrilineal bisa kita jadikan sebagai sebuah pengecualian. Adat Minangkabau misalnya, adat ini menganut budaya matrilineal. Dalam menentukan tempat tinggal suami-istri, adat Minangkabau menganut sistem matrilokal. Yaitu, pihak yang berkuasa dan bertanggung jawab dalam sebuah rumah tangga adalah ibu yang didampingi oleh mamak (saudara laki-laki ibu), sedangkan ayah hanya sebagai tamu. Adapun dalam perkawinan, menurut adat Minangkabau yang meminang bukan laki-laki atau keluarganya, akan tetapi pihak perempuanlah yang meminang. Dalam pembagian harta warisan kaum/suku  pun jatuh pada kepada perempuan, sementara kaum laki-laki tidak mendapatkan bagian apa-apa. Dalam adat Minangkabau, perempuan menempati kedudukan yang istimewa.
Garis keturunan menurut ibu, menimbulkan kecendrungan negatif bagi laki-laki di Minangkabau. Mereka dianggap hanyalah sebagai “pejantan”, yang dinikahi oleh perempuan untuk menjaga eksistensi suku sang perempuan. Tapi sisi lain, matrilineal telah memberikan status yang jelas bagi seorang anak, bahwa ia adalah anak dari ibunya. Sebagaimana telah diketahui dalam masalah seksual, patrilineal telah menempatkan perempuan pada posisi yang rendah (belum lagi penderitaan dan sakit karena hamil. Tradisi ini apakah bentuk penyimpangan atau bukan dalam suatu ajaran maka perlu ada penelitian lebih lanjut.
Gambaran di atas sebaiknya dijadikan sebagai referesni berpikir bagi mufasir feminis. Pola pikir dan sudut pandang mufasir akan menentukan hasil tafsirannya. Maka dalam membaca ayat-ayat atau Hadits yang dinilai bias gender perlu adanya pembacaan dengan sudut pandang yang seimbang. Acapkali trauma pribadi mufasir feminis menjadi landasan perpikir dan menglobalkan pengalaman dirinya sebagai wacana umum yang terjadi di berbagai tempat.
Kedua, mereka sering tidak teliti dalam merujuk kitab, memaknai teks hadits ataupun ayat al-Quran yang dinilai bermasalah, terkesan adanya pemaksaan makna sehingga hasil penafsirannya lahir secara premature. Misalnya kritik Riffat Hasan, salah seorang tokoh feminis asal Pakistan, dalam konsep penciptaan kaum Hawa. Ia menilai hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW. bersabda, "Nasihatilah perempuan, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk paling bengkok adalah bagian paling atas. Jika kau luruskan dengan paksa, ia akan patah. Dan jika kau biarkan, ia akan tetap bengkok. Karenanya, nasihatilah perempuan." (HR. Bukhari, Muslin, Tirmidzi, dan Ibnu Hajar) dinilai dhaif (lemah)dari segi sanad karena dalam hadits tersebut terdapat empat perawi yang tidak dapat dipercaya. Namun, pernyataan Riffat Hasan dibantah oleh Guru Besar UMY, Prof. Dr. Yunahar Ilyas dalam tesis masternya, karena tuduhan Riffat Hasan ternyata salah sasaran.
Sebagai renungan, dalam membaca gejala tafsir feminis sebaiknya disikapi dengan arif dan proporsional. Bentuk kehati-hatian dalam menyikapi sebuah wacana bukan berarti menolaknya secara membabi buta dan menerimanya secara taken for granted, wacana ini harus diteliti kenapa terjadi dan dari mana asal muasalnya kemudian dianalisa secara kritis agar dapat diketahui sampai akar sumber pembentukanya dan basis ideologinya. Karena menurut Mohammad Muslih, anggota peneliti di Center for Islamic and Occidental Studies (CIOS), bangunan wacana gender dan tafsir feminis sarat dengan misi, filosofi, dan ideologi.

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger