Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

KONSEP KETUHANAN

K O N S E P   K E T U H A N A N
(Oleh: Hasanal Khuluqi)


Konsep Ketuhanan Dalam Islam
Manusia saat ini banyak memperbincangkan tentang Tuhan. Siapa Tuhan sebenarnya yang diperbincangkan oleh banyak pemikir. Bahkan sampai kepada peniadaan kepada Tuhan, ini sungguh memperihatinkan. Disni Islam memberikan jalan keluar atas semua keraguan selama ini. Islam sebagai agama yang bersumber dari wahyu, banyak menjelaskan tentang hal ini. Pengingkaran tehadap eksistensi Tuhan seringkali didengung-dengungkan. Karena itu, islam memberikan konsep tentang ketuhanan, sehingga dapat dipahami secara mendalam.
Konsep tentang Tuhan dalam Islam bersumber dan berdasarkan wahyu . Yang kami maksud dengan "Wahyu" disini bukanlah imajinasi seperti hayalannya seorang penyair besar atau klaim seorang seniman terhadap diri mereka sendiri. Wahyu disini juga bukan inspirasi apostolik seprti yang diklaim oleh penulis kitab suci semacam Bibl, ia bukan intuisi iluminatif seorang ilmuan atau pakar yang berpandangan tajam. Wahyu yang kami maksud disni adalah firman Tuhan tentang diriNya sendiri, ciptaanNya, relasi antara keduanya, serta jalam menuju keselamatan yang disampaikan kepada Rasul dan Nabi pilihanNya, bukan melalui suara atau aksara, namaun semuanya itu telah Dia persentasikan dalam bentuk kata-kata, kemudian disanpaikan oleh Nabi kepada ummat dalam bentuk bahasa dan bentuk bahasa dengan sifat yang baru namun bisa dipahami, tanpa ada campur-aduk atau kerancauan (Confusion) dengan subyektifitas dan imajinasi kognitif pribadi Nabi. Wahyu ini bersifat final, dan al-Qur'an tidak hanya menegaskan kebenaran wahyu-wahyu sebelumnya dalam kondisi yang asli, tapi juga mencangkup substansi kitab-kitab sebelumnya, memisahkan antara kebenaran dan hasil budaya serta produk etnis tertentu.
Konsep Tuhan dalam Islam tidak sama dengan konsepsi Tuhan yang dipahami dalam doktrin dan tradisi keaagamaan lain didunia. Ia tidak sama dengan konsepsi Tuhan dengan yang dipahami dalam tradisi filsafat Yunani dan Hellenistik, Barat, humanisme Timur dan Barat, kalaupun ada kemiripan yang mungkin ditemukan antara sifat Tuhan yang dipahami Islam dengan konsepsi agama lain, maka itu tidak bisa ditafsirkan sebagai bukti bahwa Tuhan yang dimaksud adalah sama, yakni Tuhan universal yang Esa (The One Universal God); karena masing-masing konsep tesebut sesuai dengan dan termasuk dalam sistem dan kerangka konseptual yang berbeda-beda, sehingga konsepsi tesebut yang merupakan suatu keseluruhan, atau super system, tidak sama antara yang satu dengan yang lain.
Tuhan yang dirasakn dari pengalaman tersebut dikenal sebagai Robb, bukan Ilah yang terdapat dalam agama wahyu. Dan mengenlanya sebagai Robb belum bisa diartikan menyakininya dengan penyerahan diri yang benar karena pengenalan itu, ini karena pengingkaran, arogansi dan kebohongan yang berasal dari wilayah transenden itu sendiri. Hanya satu agama wahyu yaitu agama yang disampaikan oleh seluruh Nabi-nabi terdahulu.
Konsep mengenai sifat Tuhan dalam Islam merupakan perwujudan dari apa yang telah diwahyukan kepada para Nabi sesuai dengan al-Qur'an, Dia memiki Sifat-sifat dan Kesempurnaan-kesempurnaan yang berasal dari diriNya sendiri. Sifat dan Kesempurnaan itu tidak lain dari Zatnya, tetapi Sifat dan Kesempurnaan itu berbeda dari ZatNya

Tuhan dalam pandangan Filsafat
Dalam pandangan filosof, Tuhan menjadi perbincangan yang penuh polemik. Tidak ada titik temu yang dihasilkan dari wacana yang diunkap, justru mendatangkan pandangan lain tentang Tuhan. Oleh karena pendapat para filosof yang tidak memiliki kekuatan argument dalam menyatakan eksistensi Tuhan, sehingga banyak dipertentangkan.
Dia (Ilah) tidak sama dengan sang penggerak pertama  (Firt Mover) dalam filsafat Arisoteles karena selalu bertindak dan berbuat sebagai pelaku yang bebas, yang senantiasa aktiv dan kreatif, abadi dan terus menerus. Tidak seperti Tuhan Plato atau Aristoteles, Dia terlalu Agung untuk menerima dualisme bentuk dan zat pada aktifitas kreativnya. Penciptaan dan ciptaanNya juga tidak bisa dideskripsikan dalam terma metafisika emanasi menurut Platinus. Pencitaan olehNya merupakan perwujudan realitas ideal yang sudah ada sebelumnya dalam pengetahuannya ke dalam eksistensi eksternal dengan kekuatan dan kehendakNya, sealitas-realitas ini merupakan entitas-entitas, Dia menjadikannya nyata dalam kondisi batin keberadaanNya. CiptaanNya merupakan aksi sebuah tunggal yang berulang dalam proses yang abadi, sementara isi proses itu merupakan ciptaanNya tidak bersifak kekal.
Pada zaman Yunani Thales memunculkan gagasan bahwa asal mula dunia adalah air tetapi ia masih dibingungkan oleh pemikiran antara air sebagai dewa dan hanya unsur pertama alam semesta. Bahkan Plato maupun Aristoteles, menurut Gilson, tidak berhasil merumuskan gagasan tentang Tuhan.
Dalam pemikiran Plato, misalnya, menurut Gilson, para dewa memiliki kedudukan yang lebih rendah ketimbang Ide. Matahari dianggap Plato sebagai dewa. Namun, Matahari, yang merupakan dewa itu merupakan anak Kebaikan, yang bukan dewa. Begitu juga dengan Aristoteles, meski secara cemerlang menemukan gagasan tentang penggerak pertama (Firt Mover), tetapi ia tidak berhasil menjelaskan tentang siapa yang dimaksud dengan penggeran pertama tersebut. Dan kekaburan rumusan itu terus saja berlangsung sampai agama Yahudi muncul. Ini menandakan, para filosof tidak mampu merumuskan tentang eksistensi Tuhan. Hanya akan menambah prasangka tidak layak bagi Tuhan. Tidak akan bisa ditemukan sedikitpun dari apa yang paparkan tentang ketuhanan, malainkan harus kembali kepada konsep Tuhan dalam islam.
Keberadaan Alam Membuktikan Adanya Tuhan
Adanya alam serta organisasinya yang menakjubkan dan rahasianya yang pelik, tidak boleh tidak memberikan penjelasan bahwa ada sesuatu kekuatan yang telah menciptakannya. Alam tidak mungkin ada dengan sendirinya. Ada hal yang membuat alam ini menjadi realitas. Tetapi banyak kalangan pemikir justru salah mengungkap tentang Pencipta alam ini.
Jika percaya tentang eksistensi alam, maka secara lansung harus percaya tentang adanya Pencipta Alam. Pernyataan yang mengatakan: "Percaya adanya makhluk, tetapi menolak adanya Khaliq" adalah suatu pernyataan yang tidak benar. Belum pernah diketahui adanya sesuatu yang berasal dari tidak ada tanpa diciptakan. Segala sesuatu bagaimanapun ukurannya, pasti ada penyebabnya. Oleh karena itu bagaimana akan percaya bahwa alam semesta yang demikian luasnya, ada dengan sendirinya tanpa pencipta?

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger