Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA (TINJAUAN SEJARAH)

LIBERALISASI ISLAM DI INDONESIA 
(TINJAUAN SEJARAH)
(Oleh: Hasanal Khuluqi)

A.    Pendahuluan

Liberalisasi Islam, ungkapan kalimat yang terasa enak dieja, terasa dalam dipikirkan maknanya, membuat orang terbelalak membacanya, terasa sakit virus yang disebarkanya, tiada obat yang bisa kita minum untuk mengobatinya, hanya jawaban yang bisa menohok kepada penyebarnya. Dalam makalah ini penulis mengangkat serta mengkaji liberalisasi Islam di Indonesia, tinjauan sejarah dan perkembanganya.

B.     Pembahasan

1.      Sejarah Liberalisasi Pemikiran Islam di Indonesia
Liberalisasi Islam di Indonesia saat ini tidak asing lagi didengar, diperbincangkan, bahkan diperdebatkan, sudah menjadi menu hidangan yang tidak bisa ditinggalkan bagi kalangan akademisi, juru dakwah, dan umat Islam secara umum. Liberalisasi  sudah masuk dan menyerang  idiologi umat Islam. Ketika kita menelusuri sejarah liberalisasi pemikiran Islam di Indonesia, yang kita dapatkan ternyata Liberalisasi Islam ditanamkan sejak zaman penjajahan Belanda. Secara sistematis, Liberalisasi Islam di Indonesia dimulai pada awal tahun 1970-an. Yaitu tepatnya pada 02 Januari 1970, saat Ketua Umum Pengurus Besar Humpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI), Nurcholish Madjid seusai kedatangannya dari AS, secara resmi menggulirkan ‘perlunya dilakukan sekularisasi Islam’ dengan meluncurkan sebuah makalah dengan judul “Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan masalah Integrasi Umat. (Husaini, 2005:235).
Sejak itu, peristiwa-peristiwa tragis bersusulan dan berlangsung secara liar. Dengan mengadopsi gagasan Hervey Cox -melalui bukunya The Secular City-,  Nurcholish Madjid membuka pintu masuk arus Sekularisasi dan Liberalisasi dalam Islam, menyusul kasus serupa dalam tradisi Yahudi dan Kristen.
Sejak saat itu pula, buku The Secular City mulai menancapkan pengaruhnya di tanah air. Di Yogyakarta misalnya, muncul sekelompok aktivis yang tergabung dalam Lingkaran Diskusi Limited Group di bawah bimbingan Mukti Ali. Diantara sejumlah aktivis tersebut adalah Dawam Rahardjo, Djohan Effendi, dan Ahmad Wahib. Namun belum memunculkan pengaruh yang signifikan dalam kancah pemikiran Islam.
Di masa selanjutnya, pengaruh tersebut diperkuat oleh Nurcholish Madjid dalam pidatonya di Taman Isma'il Marzuki pada tanggal 21 Oktober 1992, yang berjudul "Beberapa Renungan tentang Kehidupan Keagamaan di Indonesia". Paparan di atas sebagai  pijakan bagi penulis, bahwa liberalisasi Islam di Indonesia tidak lepas dari penjajahan belanda terhadap bangsa Indonesia, yang kedua timbul dari faham sekularisme yang secara resmi digulirkan oleh Nurcholis Majid melalui diskusi yang diadakan oleh HMI, serta pengaruh pemikiran Harvey Cox yang diusung oleh Nurcholis Majid.
Liberalisasi Islam di Indonesia mengalami perkembangan sangat cepat, bagaikan jamur yang tumbuh subur dimusim hujan, lebih memilukan lagi, liberalisasi Islam menyerang dan menohok jantung pendidikan perguruan-perguruan tinggi Islam yang selama ini menjadi kebanggaan umat, kini menjadi pusat yang menggelisahkan sebagian ulama yang peduli terhadap generasi muda. Sekitar 30 tahun, seorang tokoh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Prof. Dr. HM Rasjidi telah mengingatkan kalangan akademisi di IAIN dan pejabat Departemen Agama, tentang dampak dari digunakanya buku "Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya" karya Harun Nasution, buku ini dianggap sangat berbahaya bagi keteguhan aqidah Islam. Kritik Rasjidi dianggap angin lalu oleh pemerintah ORBA, karena Islam model orientalis dianggap lebih cocok dengan kebijakan ideologi dan politik pemerintah yang sedang gencar-gencarnya melakukan sekularisasi.(lihat : Hegemoni Kristen-Barat, hal : 127).
Jika Nurcholish Madjid, Abdurrahman Wahid, menjadi pelopor liberalisasi Islam di organisasi Islam dan masyarakat, maka Prof. Dr. Harun Nasution melakukan liberalisasi Islam dari dalam kampus-kampus Islam. Ketika menjadi rektor IAIN Ciputat, Harun mulai melakukan gerakan yang serius dan sistematis untuk melakukan perubahan dalam studi Islam. Ia mulai dari mengubah kurikulum IAIN. Berdasarkan hasil rapat rektor IAIN se-Indonesia pada Agustus 1973 di Ciumbuluit Bandung, Departemen Agama RI memutuskan: buku “Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya” (IDBA) karya Prof. Dr. Harun Nasution direkomendasikan sebagai buku wajib rujukan mata kuliah Pengantar Agama Islam – mata kuliah komponen Institut yang wajib diambil oleh setiap mahasiswa IAIN.( http://swaramuslim.net/more.php?id=A5722_0_1_0_M).
Perkembangan liberalisasi Islam di Indonesia dengan pesat tidak dapat dipungkiri karena adanya faktor asing yang bermain dalam segala lini kehidupan umat Islam, mereka dengan lihai mencuri celah yang memungkinkan untuk masuk dan duduk manis dengan harapan yang sangat menakjubkan. Karena mereka memandang Islam sebagai ancaman potensial bagi Barat, atau Islam dipandang sebagai isu politik potensial untuk meraih kekuasaan di Barat, maka berbagai daya upaya dilakukan untuk ‘menjinakkan’ dan melemahkan Islam. Salah satu program yang kini dilakukan adalah dengan melakukan proyek liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan dunia Islam lainnya. Proyek liberalisasi Islam ini tentu saja masih menjadi bagian dari ‘tiga cara’ pengokohan hegemoni Barat di dunia Islam, yaitu melalui program Kristenisasi, imperialisme modern, dan orientalisme. ( http://swaramuslim.net/more.php?id=A5722_0_1_0_M).
Kini, setelah 30 tahun berlangsung arus tersebut semakin besar dan sulit dikendalikan. Melaju deras dalam berbagai sisi kehidupan; sosial, ekonomi, politik, dan bahkan pemikiran keagamaan. Ironinya, usaha-usaha tersebut bergerak secara massive di kampus-kampus dan organisasi-organisasi Islam, selain juga berkembang di lembaga-lembaga umum. Mulai pada tahun 2001, mereka menamakan komunitas mereka dengan sebutan “Jaringan Islam Liberal” yang disingkat menjadi JIL. Kegiatan awal dilakukan dengan menggelar kelompok diskusi maya (milis) yang tergabung dalam islamliberal@yahoogroups.com, selain juga menyebarkan gagasannya lewat website www.islamlib.com (Hidayat, 2002:4).
Sebagaimana ‘Abdullah al-faqiir ilaa maghfirati Rabbihi, dalam sebuah tulisan "Liberalisasi Islam di Indonesia akar masalah dan penyelesaiannya" menjelaskan Program Liberalisasi Islam terjadi dalam tiga bentuk; yaitu, 1) Liberalisasi Bidang Aqidah dengan penyebaran paham Pluralisme Agama, 2) Liberalisasi Bidang Syari'ah dengan melakukan perubahan metodologi ijtihad, dan 3) Liberalisasi Konsep Wahyu dengan melakukan dekonstruksi terhadap al-Qur'an.

Liberalisasi Akidah Islam

Liberalisasi di bidang Akidah Islam dilakukan dengan menyebarkan paham Pluralisme Agama. Yaitu paham yang menyatakan, bahwa semua agama adalah jalan yang sama-sama sah menuju Tuhan yang sama. Jadi menurut penganut paham ini, semua agama adalah jalan yang berbeda-beda untuk menuju Tuhan yang sama. Atau, menyatakan bahwa agama adalah persepsi relatif terhadap Tuhan yang mutlak, sehingga –karena kerelatifannya– maka setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim atau meyakini, bahwa agamanya sendiri yang lebih benar atau lebih baik dari agama lain, atau mengklaim bahwa hanya agamanya sendiri yang benar. Bahkan, di antara penganut paham ini beranggapan bahwa agama yang memiliki klaim kebenaran mutlak atas agamanya sendiri adalah agama jahat
Liberalisasi al-Qur'an

"Dekonstruksi Kitab Suci", fenomena yang sudah sangat berkembang pesat di kalangan Yahudi dan Kristen. Diawali dengan kajian atau studi tentang kritik Bible dan kritik teks Bible yang populer di  Barat. Karena begitu pesatnya studi tersebut, sehingga kalangan Kristen-Yahudi terdorong untuk "melirik" al-Qur'an, dan menerapkan terhadapnya apa yang biasa mereka terapkan terhadap Bible mereka. Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, inilah dampak dari benturan peradaban antara Islam dan Barat. Hampir satu abad berlalu, para orientalis dalam bidang studi al-Qur'an bekerja keras untuk menunjukkan bahwa al-Qur'an adalah kitab yang bermasalah sebagaimana Bible. Mereka tidak pernah berhasil. Tapi anehnya, kini hal itu sudah diikuti begitu banyak orang dari kalangan muslim sendiri, termasuk yang ada di Indonesia.
Kalangan liberal dan sejenisnya yang ada di Indonesia, memang sangat aktif dalam menyerang al-Qur'an secara terang-terangan. Mereka tidak sekedar berwacana tetapi aktif menyebarkan pemikirannya yang destruktif terhadap al-Qur'an. Sebagai contoh, berikut pernyataan seorang tokoh Jaringan Islam Liberal, Sumanto al-Qurthubhi:

" Dalam studi kritik Qur’an, pertama kali yang perlu dilakukan adalah kritik historisitas Qur’an. Bahwa Qur’an kini sudah berupa teks yang ketika hadir bukan bebas nilai dan tanpa konteks. Justru konteks Arab 14 abad silam telah mengkonstruk Qur’an. Adalah Muhammad SAW, seorang figur yang saleh dan berhasil mentransformasikan nalar kritisnya dalam berdialektika dengan realitas Arab. Namun, setelah Muhammad wafat, generasi pasca Muhammad terlihat tidak kreatif. Jangankan meniru kritisisme dan kreativitas Muhammad dalam memperjuangkan perubahan realitas zamannya, generasi pasca Muhammad tampak kerdil dan hanya mem-bebek pada apa saja yang asalkan itu dikonstruk Muhammad. Dari sekian banyak daftar ketidakkreatifan generasi pasca Muhammad, yang paling mencelakakan adalah pembukuan Qur’an dengan dialek Quraisy, oleh Khalifah Utsman bin Affan yang diikuti dengan kalim otoritas mushafnya sebagai mushaf terabsah dan membakar (menghilangkan pengaruh) mushaf-mushaf milik sahabat lain. Imbas dari sikap Utsman yang tidak kreatif ini adalah terjadinya militerisme nalar Islam untuk tunduk/mensakralkan Qur’an produk Quraisy. Karenya, wajar jika muncul asumsi bahwa pembukuan Qur’an hanya siasat bangsa Quraisy, melalui Utsman, untuk mempertahankan hegemoninya atas masyarakat Arab (dan Islam). Hegemoni itu tampak jelas terpusat pada ranah kekuasaan, agama dan budaya. Dan hanya orang yang mensakralkan Qur’anlah yang berhasil terperangkap siasat bangsa Quraisy tersebut"

Liberalisasi Syari'at Islam

Liberalisasi Syari'at Islam lebih difokuskan pada "Kontekstualisasi Ijtihad". Sekali lagi, masih ada hubungan erat dengan metode penafsiran Hermeneutika. Mereka menggunakan metode 'kontekstualisasi' sebagai mekanisme dalam merombak hukum-hukum Islam. Nash-nash yang sudah qath'iy mereka bongkar dengan metode tersebut. Misalnya, dalam masalah perkawinan antar agama, khususnya antara Muslimah dengan laki-laki non-Muslim.

C.     Penutup

Pemaparan terhadap liberalisasi Islam di Indonesia tinjauan sejarah di atas sungguh sangat mengejutkan bagi kita umat Islam, bahwa liberalisasi Islam tertanam dinegeri Indonesia sudah memakan usia seperempat abad lebih, dan mengurita ditengah-tengah kita pada akhir-akhir ini, bahkan menjadi masalah yang serius yang tidak boleh kita anggap enteng serta dianggap angin lalu. Tetapi ini adalah permasalahan serius yang harus dicarikan solusi dan jawaban sebagai pukulan balik bagi aktifis liberal, semoga Allah memudahkan kita semua. Amin...


1 comments:

Mazlum Syahid said...



https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk


Salam


Kepada:

 

Redaksi para akademik


Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan


Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info

Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 


Daripada Pencinta Islam rahmatan lil Alamin wa afwan. 

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger