Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

Membangun Peradaban Tauhid

Membangun Peradaban Tauhid
(Oleh. Hasanal Khuluqi)

Pendahuluan
            Tauhid adalah bingkai pemikiran dan sentral dari segala ajaran Islam, mulai dari masalah aqidah, syariah, politik, sosial, budaya, sejarah, dan peradaban Islam. Ideologi tauhid mampu membawa bangsa Arab dari keterbelakangan menuju kejayaan hingga menyaingi bahkan kemudian mengalahkan dua imperium saat itu, Romawi dan Persia. Cahaya tauhid mampu menyinari relung hati bangsa Arab, menyibak tabir kegelapan kejahiliyahaan, meruntuhkan ideologi dan tradisi bangsa Arab yang bertentangan dengan prinsip tauhid. Cahaya tauhid adalah cahaya wahyu dan cahaya Islam yang diturunkan Allah sebagai rahmat bagi semesta alam. Di saat kondisi manusia mulai merasakan kegelapan dan kehilangan cahaya tauhid yang pernah dibawa oleh para rasul sebelumnya.
            Terbitnya cahaya tauhid tidak sepi dari penentangan, yang berasal dari orang-orang yang hatinya buta karena terlalu lama tertutupi gelapnya kejahiliyaan. Namun seiring berjalannya waktu mata itu dapat kembali melihat cahaya rahmat yang berasal dari langit ketujuh, kecuali orang-orang yang tidak dirahmati oleh Allah dan ditutup mata hatinya untuk melihat cahaya ini. Dengan cahaya tauhid inilah, kaum muslimin mengukir sejarah dan peradaban umat manusia hingga mencapai pada ketinggian martabat dan derajatnya sebagai seorang hamba.

Esensi Tauhid
            Setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, seorang muslim dituntut untuk mengaktualisasikan dan mentransformasikan apa yang ia yakini dalam ruang dan waktu, terjun ke dalam dunia untuk menciptakan sejarah manusia dan perubahan yang diinginkan oleh Allah Azza wa Jalla. Jadi tauhid mengajak manusia untuk bergerak, berbuat, dan bertindak mengisi ruang dan waktu sejarah untuk melakukan suatu perubahan ke arah yang ditetapkan Allah Azza wa Jalla karena manusia adalah Khalifah di muka bumi.
            Seorang yang telah bertauhid tidak boleh menjalani eksistensi yang monastik (rahbaniyah), isolasionis, dan egosentris sebagaimana Kristen, kecuali dalam waktu dan kondisi tertentu. Hal itu bertujuan untuk mencapai kemaslahatan umum yang lebih besar, Hay bin Yaqzhan (tokoh sekaligus judul dalam novel karya Ibnu Thufail) setelah mendapatkan secercah cahaya tauhid, ia memotong batang pohon dan membuat rakit guna menyeberangi lautan mengakhiri pengasingannya dan mencari masyarakat dan dunia untuk melakukan perubahan dan mengukir sejarah. (Al-Faruqi, Isma'il Raji, Tauhid, p.35-39)
            Jadi, konteks tauhid sesungguhnya bukanlah sekadar urusan pemikiran, atau teori, atau sebagai filsafat, atau suatu ungkapan dan syair indah semata, sebagaimana yang dipahami oleh masyarakat pada umumnya. Tetapi, tauhid adalah asas terpenting bagi manusia untuk memandang realitas alam semesta, menyadari posisi diri dan memperbaiki akhlak, di samping keberadaannya sebagai doktrin sosial, ekonomi, dan politik. Dalam peristilahan dan literatur keagamaan serta wacana yang lain, tauhid memiliki pengertian paling luas dalam pergerakan masyarakat. Tauhid dapat tumbuh subur dan mudah berkembang karena ia dapat memberikan pengaruh kuat bagi setiap konsep konstruktif dan revolusioner, sekaligus menutupi aspek-aspek buruk dan diskriminatif dalam kehidupan sosial. (Khamene'i, Sayyid 'Ali, "Al-Tawhid and Its Social Implications", Part 1: The Essence of Tawhid, dalam al-Tawhid Islamic Journal. Vol. I, No. 3 Qum, The Islamic Republic of Iran, http://www.al-islam.org/al-tawhid/tawhid_social/1.htm/24.01.2010/10.10).
            Oleh karena itulah, Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang yang mendustakan agama adalah orang yang menolak anak yatim dan tidak memberi dan mengajak untuk memberi makanan kepada orang miskin. (QS. Al-Ma'un:2-3). Hal ini menunjukkan bahwa ruang kerja kosmik manusia tidak hanya terbatas pada hubungan yang bersifat vertikal saja tapi juga meliputi ruang yang bersifat horizontal. Mengisi ruang dan waktu di dunia ini dengan nilai, bahkan nilai material makanan sekalipun. Hal itu tidak hanya menjadi urusan pokok manusia (masalah sosial) saja tapi juga penting bagi agama. (Al-Faruqi, Isma'il Raji, Tauhid, p.36).
            Dengan demikian, orang yang bertauhid mengisi ruang dan waktu dengan penuh keseriusan dan optimisme serta diiringi dengan keyakinan bahwa apa yang ditentukan Allah Ta'ala adalah hasil akhirnya, karena alam ini diciptakan oleh Allah dan  bergerak sesuai dengan hukum yang ditetapkan Allah pula. Berbeda dengan Komunis yang menyakini bahwa manusialah yang menentukan hasilnya karena hukum diciptakan oleh materi dan bergerak sesuai dengan hukum materi pula (Dialektika Materialisme Karl Mark). (Nur Farid, "Komunisme; Dari Filsafat ke Sistem Ekonomi", dalam http://elfillah.multiply.com/ journal/item/11/ 23.01.2010/ 02.03  p.m).
Islam memandang bahwa realitas dunia adalah ciptaan, anugerah, dan panggung ujian. Ia bersifat teologis, sempurna, dan teratur yang memungkinkan bagi manusia untuk melakukan kebaikan dan meraih kebahagiaan. Berbeda dengan Kristen yang memandang bahwa realitas alam tidak relevan, tidak berguna, tidak sempurna, dan jahat (antagonis terhadap alam). (Al-Faruqi, Isma'il Raji, Tauhid, p.50-51).

Revolusi Tauhid
            Wahyu yang didapatkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasalam dari malaikat Jibril di gua Hira menggerakkan beliau  keluar dari tempat Tahannuts menuju kota Makkah untuk bertindak mengubah pola hidup manusia dan sejarah, menata kembali tatanan dunia sesuai dengan pola ilahi. Beliau memandang bahwa dirinya sendiri sebagai pusat pusaran sejarah, karena dia adalah wakil Tuhan (Khalifah) untuk mengatur dan mengisi waktu dan ruang. Misi inilah yang menjadikan beliau menolak permintaan pamannya untuk tidak melanjutkan risalah tauhid ini dengan mengatakan, "Wahai pamanku, seandai engkau meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, sungguh aku tidak akan berhenti melaksanakan misi ini hingga Allah memberikan kemenangan kepadaku atau aku mati karenanya". (Muhammad bin Ishaq, As-Sirah An-Nabawiyah, Al-Maktabah Asy-Syamilah. Vol.1 p.50).
            Ketika kondisi kota Makkah tidak lagi kondusif untuk meneruskan penegakan dan penyebaran risalah tauhid, beliau hijrah ke kota Yatsrib bersama para sahabatnya. Hal itu beliau lakukan karena tidak ingin menyerah kepada musuh dan adanya intimidasi Kafir Quraisy yang kian hari kian bertambah seiring dengan bertambahnya pengikut beliau. Beliau yakin bahwa  tugas Rasul tidak hanya menerima dan menyampaikan wahyu saja tapi juga mendapat tuntutan untuk merubah proses alam dan sejarah umat manusia menuju sebuah perubahan yang diinginkan oleh Allah.
            Di Yatsrib, kota yang telah beliau persiapkan sebelumnya untuk menjadi Mahjar, Nabi bersama para sahabat mengukir sejarah tauhid, menata tatanan dan pola hidup masyarakat, mulailah di bidang sosial, politik, budaya, dan keagamaan. Bahkan beliau mampu menegakkan panji tauhid dan mempertahankan eksistensinya dari pihak luar yang tidak senang dengan tegaknya panji tauhid di atas sebuah negara. Dengan modal kepemimpinan di bidang sosial, politik, hukum, dan militer mampu menyatukan Jazirah Arab untuk memberikan sumbangan positif dalam sejarah umat manusia saat itu.
Delapan tahun kemudian, kota Yatsrib berganti nama menjadi  kota Madinah karena merupakan tempat dilaksanakannya dan disempurnakannya ajaran din yang dahulunya di Makkah hanya terbatas pada Tauhid, ibadah, alam semesta, dan hari akhir. Di Madinah ajaran tersebut disempurnakan dengan adanya syari'at yang berkaitan dengan masalah ummah, ukhuwah, jihad, kemanusiaan, keadilan, dan kemakmuran. Madinah sendiri merupakan ism makan dari kata din yang berarti berserah diri dan peraturan. Jadi, dinamakan Madinah karena menjadi tempat orang-orang yang berserah diri kepada Allah dan mentaati peraturan, dengan kata lain Madinah adalah sebutan untuk sebuah kota yang struktur kehidupannya tertata rapi. Dinamakan Madinah, juga karena menjadi tempat membangun sejarah dan peradaban (Tamaddun) Islam. (Zarkasyi, Hamid Fahmi, "Madinah", dalam Jurnal Islamia, vol 5, no.2, tahun 2009. p.124-126).
Para sahabat yang menjadi pembawa tongkat estafet perjuangan Nabi, juga melakukan hal sama dan melanjutkan misi ini, mereka terjun dalam arena sejarah umat manusia mengubah tatanan masyarakat dunia, budaya dan pola kehidupan. Sejarah mencatat dengan tinta emas, pernyataan sahabat Rabi' bin 'Amir ketika di utus ke Persia untuk menyebarkan risalah tauhid, "Kami diutus oleh Allah untuk mengeluarkan manusia dari peribadatan kepada sesama manusia menuju peribadatan kepada Rab manusia, dari tirani agama-agama menuju keadilan Islam". Semangat perubahan ini juga pernah terlontar dari penerus perjuangan yang lain, Uqbah bin Nafi', "Wahai samudra, jika aku tahu bahwa ada tanah di belakangmu maka aku akan menyebrangimu di atas punggung kudaku", sebuah cerminan semangat generasi yang dibesarkan Islam. (Al-Faruqi, Isma'il Raji, Tauhid, p.38-39).
Seluruh pernyataan dan gerakan Ilahiah yang terjadi dalam sejarah ini mengisyaratkan dan tertuju pada satu titik, yakni kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah; bahwa pencipta dan pengatur alam semesta beserta seluruh isinya hanyalah Dia, dan semua akan kembali kepada-Nya. 
           
Khatimah  
            Di zaman kita, nilai-nilai itu mulai pudar, hilang, dan lenyap dari pandangan mata kaum muslimin. Nilai-nilai itu masih ada, tinggal kita yang memungutnya kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata kita di masa sekarang, tidak ada kata terlambat, dunia sudah lama merindukan panji tauhid kembali ditancapkan di atas punggungnya. Selama itu tidak kita lakukan itu maka tepatlah kiranya kita ajukan sebuah pernyataan, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan begitu saja mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji", (QS.Al-Ankabut: 2), atau firman-Nya yang lain, "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar". (QS.Ali Imran:142).
            Wallahu A'lam bi Ash-Shawab………..


0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger