Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

PAHAM HUMANISME ADALAH SESAT.

PAHAM HUMANISME ADALAH SESAT.
(Oleh: Hasanal Khuluqi)

“Banyak jalan menuju Roma”, sepenggal kalimat itu barangkali yang di jadikan landasan bagi orang-orang Barat dalam menyerang musuhnya (baca: Islam). Setelah mereka menyadari bahwa untuk menghancurkan Islam tidak mungkin menggunakan kekuatan, maka para orang-orang Barat menggunakan cara yang lebih lunak, dengan mengkampanyekan berbagai macam aliran-aliran pemahaman. Benih-benih Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme atau yang sering dikenal dengan istilah “SIPILIS” gencar mereka taburkan kepada umat Islam Indonesia.
Disamping itu juga mereka mengajarkan paham Humanisme, dimana yang menjadi objek kajian adalah manusia itu sendiri tanpa menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu tudingan yang diberikan oleh mereka terhadap Islam adalah bahwa aktifitas Islam pada umumnya hanya memperhatikan jalinan hablun-minallah (hubungan dengan Allah) tanpa memperhatikan jalinan hablun-minan-naas (hubugnan dengan manusia). Hal ini sungguh bertentangan dengan Firman Allah SWT. dalam surah Al-Isra' yang berbunyi:
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
”... dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil".(QS Al-Isra ayat 23-24)
Ayat di atas menunjukkan bahwasannya Islam dalam kesehariannya sangat memperhatikan hubungan dengan antar sesama manusia. Artinya pada hakekatnya Islam juga merupakan agama yang di dalamnya mengandung jiwa kemanusiaan atau sebut sajalah humanis. Namun demikian tidak berarti manusia itu berada di atas segalanya. Islam tetap menjunjung tinggi keyakinan bahwa dibalik aktifitas yang dilakukan oleh manusia masih ada Allah yang Maha mengatur segalanya. Satu hal yang perlu diketahui bahwa bukan berarti hal ini sejalan dengan paham humanisme yang di usung oleh orang-orang Barat yang memandang manusia sebagai sesatu yang paling penting dalam kehidupan.
Rasulullah SAW. bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim.” (HR Thabrani)
            Humanisme adalah istilah umum untuk berbagai jalan pikiran yang berbeda yang memfokuskan dirinya ke jalan keluar umum dalam masalah-masalah atau isu-isu yang berhubungan dengan manusia. Humanisme telah menjadi sejenis doktrin beretika yang cakupannya diperluas hingga mencapai seluruh etnisitas manusia, berlawanan dengan sistem-sistem beretika tradisonal yang hanya berlaku bagi kelompok-kelompok etnis tertentu.Paham humanisme yang di usung oleh para kaum liberalis dimana humanisme di artikan sebagai "sebuah sistem pemikiran yang berdasarkan pada berbagai nilai, karakteristik, dan tindak tanduk yang dipercaya terbaik bagi manusia, bukannya pada otoritas supernatural mana pun"[1].
Humanisme modern dibagi kepada dua aliran. Humanisme keagamaan/religi berakar dari tradisi Renaisans-Pencerahan dan diikuti banyak seniman, umat Kristen garis tengah, dan para cendekiawan dalam kesenian bebas. Pandangan mereka biasanya terfokus pada martabat dan kebudiluhuran dari keberhasilan serta kemungkinan yang dihasilkan umat manusia.
Humanisme sekular mencerminkan bangkitnya globalisme, teknologi, dan jatuhnya kekuasaan agama. Humanisme sekular juga percaya pada martabat dan nilai seseorang dan kemampuan untuk memperoleh kesadaran diri melalui logika. Orang-orang yang masuk dalam kategori ini menganggap bahwa mereka merupakan jawaban atas perlunya sebuah filsafat umum yang tidak dibatasi perbedaan kebudayaan yang diakibatkan adat-istiadat dan agama setempat.
Ini berarti bahwa seseorang dalam melakukan suatu kebaikan tidak disangkut pautkan dengan nilai-nilai agama, atau tidak mengkaitkannya dengan Tuhan. Hina atau mulianya seseorang dinilai hanya dari seberapa banyak ia melakukan suatu kebaikan terhadap orang lain. Kemuliaan seseorang hanya dinilai dari sebanyak apa ia melakukan kebaikan terhadap orang lain.
Berbeda dengan Islam yang mengajarkan bahwa kebaikan yang dilakukan harus senantiasa di iringi rasa ikhlas, ini berarti setiap kebaikan selalu di kaitkan dengan ajaran agama dan semata-mata karena ingin mengharap ridha Allah SWT. Bahkan dalam Islam, sebanyak apapun amal kebaikan yang kita lakukkan terhadap orang lain akan tetapi amal kebaikan itu hanya sekedar ingin mendapat pujian dan sanjungan dari orang semata, maka amal kebaikan itu menjadi tidak bermakna sama sekali dalam Islam.
            Itulah sebabnya bilamana Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menganjurkan kita untuk berbuat kebaikan biasanya beliau selalu mengkaitkan dengan ganjaran yang bakal diterima pelakunya, khususnya yang berdampak bagi kehidupannya di Hari Kemudian. Hal ini menunjukkan bahwa setiap amalan yang kita lakukan pasti memiliki hubungan dengan Allah SWT. Rasulullah SAW. bersabda:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ أَنْفَعَهُمْ لِلنَّاسِ ، وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ سُرُورٍ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ ، أَوْ تَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً ، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دِينًا ، أَوْ تُطْرَدُ عَنْهُ جُوعًا ، وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ، يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ ، شَهْرًا ، وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ ، وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ ، وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ ، مَلأَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَلْبَهُ أَمْنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى أَثْبَتَهَا لَهُ ، أَثْبَتَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ قَدَمَهُ عَلَى الصِّرَاطِ يَوْمَ تَزِلُّ فِيهِ الأَقْدَامُ
“Manusia yang paling dicintai Allah ialah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Dan perbuatan yang paling disukai di sisi Allah ialah mendatangkan kebahagiaan kepada sesama muslim atau menghilangkan darinya suatu kesulitan atau melunasi hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya lebih kusukai daripada aku i’tikaf selama sebulan di masjid ini, yakni masjid di Madinah, dan barangsiapa menahan amarahnya maka Allah akan tutup auratnya. Barangsiapa menahan amarahnya padahal jika ia mau ia sanggup menyalurkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan ketenteraman pada hari Kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya dalam rangka memenuhi kebutuhannya sehingga terpenuhi, maka Allah akan mantapkan kakinya di atas shiroth pada hari dimana kaki-kaki terpeleset.” (HR Thabrani)
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa humanism bukan Islam. Berjiwa humanis memang merupakan bahagian dari ajaran Islam, karena itu berkaitan dengan hubungan horizontal antara sesama manusia, tapi dengan mengidentikkan ajaran mulia Al-Islam dengan ajaran duniawi Humanisme adalah suatu tindak kezaliman. Manusia yang berideologi humanisme melakukan segenap kebaikannya tanpa dilandasi iman kepada Allah dan Hari Akhir. Sedangkan seorang muslim mengerjakan kebaikan apapun senantiasa dilandasi pengharapan akan ridha, rahmat dan ampunan Allah bagi dirinya dan sesama manusia kelak di Hari Berbangkit. Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِي الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِي الْآخِرَةِ وَأَمَّا الْكَافِرُ فَيُطْعَمُ بِحَسَنَاتِ مَا عَمِلَ بِهَا لِلَّهِ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا أَفْضَى إِلَى الْآخِرَةِ لَمْ تَكُنْ لَهُ حَسَنَةٌ يُجْزَى بِهَا
Sesungguhnya Allah tidak menganiaya (mengurangi) seorang mu'min hasanatnya (kebaikannya), diberinya di dunia dan dibalas di akherat. Adapun orang kafir, maka diberi itu sebagai ganti dari kebaikan yang dilakukannya di dunia, sehingga jika kembali kepada Allah, tidak ada baginya suatu hasanat (kebaikan) untuk mendapatkan balasannya.” (HR Muslim)
 _____________________________________________________________________
[1] http://www.harunyahya.com/indo/buku/globalfreemasonry03.htm#notes

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger