Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

PLURALISME - Dari Kerancuan Istilah Hingga Bapak Pluralisme

PLURALISME
Dari Kerancuan Istilah Hingga Bapak Pluralisme
(Oleh: HasanalKhuluqi)

Kerancuan Istilah
Pluralisme banyak diperbincangkan di Indonesia terutama dekade awal abad 21 ini. Pada tahun 2005 MUI telah mengeluarkan fatwa haram terhadap SIPILIS yang di dalamnya terdapat paham pluralisme agama. Dan di penghujung tahun 2009 wacana pluralisme kembali menghangat dengan penghargaan yang diberikan Presiden SBY kepada (alm.) Gus Dur sebagai “bapak pluralisme”.
Secara umum, masyarakat Indonesia masih rancu dalam mendefinisikan “pluralisme”, khususnya pluralisme agama. Banyak kalangan yang berpolemik tentang pluralisme tanpa mengetahui betul makna pluralisme itu. Seolah-olah pluralisme sudah didefinisikan dengan jelas. Dengan anggapan secara simplisit bahwa pluralisme itu adalah toleransi. Pendefinisian simplisit semacam ini tentunya akan mengaburkan makna sebenarnya dari pluralisme itu sendiri.
Dalam sebuah surat kabar nasional, Anis Malik Toha memberikan contoh sebuah Disertasi Doktor di UIN Jakarta, yang kemudian diterbitkan pada awal tahun 2009 yang lalu dengan judul Argumen Pluralisme Agama: Membangun Toleransi Berbasis Al-Qur’an. Dari judul sebenarnya sudah diketahui apa yang dimaksudkan oleh pengarang tentang faham pluralisme agama ini, yang tiada lain adalah “toleransi agama”. Isi buku tersebut juga tidak nampak ada upaya yang serius dari pengarangnya untuk mendiskusikan definisi terori atau faham pluralisme agama yang menjadi topik pembahasannya, malah terjebak pada pengertian yang keliru di atas tadi.
Mendefinisikan sesuatu adalah hal yang sangat penting sebelum membahasnya. Begitu kiranya yang dilakukan oleh para ulama terdahulu. Ulama fiqih misalnya, mereka mendifiniskan apa itu thaharah, shalat, puasa, dan sebagainya, setelah itu mereka baru membahasnya sehingga jelas arah tujuan pembahasannya.
Pada koran Republika, tanggal 14 januari 2010, bagian Islamia Jurnal Pemikiran Islam Republika, Hamid Fahmy Zarkasyi menjelaskan bahwa “pluralisme” merupakan kata bersayap. Terkadang bermakna toleransi dan di saat lain berarti relativisme. Pada koran yang sama, Anis Malik Toha mengutip pendapat Diana L. Eck, direktur The Pluralism Project Universitas Harvard, Amerika Serikat, yang menyatakan bahwa “pluralism is not just tolerance” yang bermakna bahwa “pluralisme bukan sekedar toleransi”. Bagi kaum pluralis sejati, mereka tidak mengingkari adanya toleransi. Tapi mereka menuntut lebih dari itu, yaitu sikap saling memahami serta penekanan pada pandangan akan “kesamaan” atau “kesetaraan” (equality) dalam segala hal termasuk agama.
Jadi, pluralisme mengandung arti toleransi di sayap kirinya dan relativisme yang memandang semua agama sama validnya di sayap kanannya. Sehingga jelaslah bahwa kaum pluralis sejati tidak memandang pluralisme sebgai toleransi saja. Tapi lebih dari itu, yaitu pandangan bahwa semua agama sama benarnya. Pada akhirnya, pandangan ini akan menggerus konsep keyakinan “iman-kufur”, “tauhid-syirik”, dalam konsepsi Islam.

Bapak Pluralisme
Pluralisme adalah pandangan yang lahir di luar dunia Islam. Paham ini kemudian diimpor ke dunia Islam oleh beberapa kalangan muslim, khususnya di Indonesia. Sangat ironis, paham yang akan mendangkalkan akidah Islam ini diterima dengan tangan terbuka. Tidak hanya sampai di situ, bahkan mereka dengan gigih menyebarkan paham pluralisme ini ke berbagai kalangan muslim lainnya. Entah mereka mengetahui makna pluralisme sebenarnya atau hanya memaknainya dengan pendefinisian yang bersifat simplisit sebagai bentuk toleransi. Ini sangat mengacaukan pemikiran umat Islam di Indonesia, khususnya yang awam akan ideologi yang tumbuh dan berkembang di dunia Barat seperti pluralisme.
Masih segar di ingatan kita, di penghujung akhir tahun 2009, tepatnya tanggal 31 Desember 2009, dalam acara pemakaman (alm.) Gus Dur di pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, Presiden SBY memberikan gelar “bapak pluralisme” kepada Gus Dur.  "Selamat jalan Bapak Pluralisme. Semoga tenang di sisi Allah SWT," kata SBY dalam pidatonya. Bahkan Presiden SBY menambahkan sosok Gus Dur sebagai “bapak pluralisme” yang patut ditauladani seluruh bangsa.
Sekali lagi masyarakat Indonesia dibuat kabur terhadap pemaknaan pluralisme tersebut. Padahal MUI dalam keputusan fatwa Nomor : 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tentang pengharaman pluralisme, liberalisme dan sekularisme agama telah mendefinisikan pluraisme sebagai, “suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relative; oleh sebab itu, setiap pemeluk agama tidak boleh mengkalim bahwa hanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan di surga”.
MUI sendiri menolak pemberian gelar “bapak plurlisme” yang diberikan oleh Presiden SBY kepada Gus Dur. Menurut KH. Abdusshomad Buchori, ketua MUI Jawa Timur, yang disampaikannya lewat ANTARA tanggal 13 Januari 2010, (dapat diakses di http://antaranews.com/berita/1263369952/mui-tolak-gelar-bapak-pluralisme-gus-dur), ia mengatakan “Kami tidak sependapat jika Gus Dur disebut sebagai Bapak Pluralisme seperti diungkapkan Presiden di Jombang beberapa waktu lalu karena dapat menimbulkan konflik agama," kemudian ia mengingatkan, "Yang benar adalah pluralitas, bukan pluralisme. Pluralitas adalah upaya untuk mensejajarkan beberapa agama. Ini harus dicermati agar tidak memicu konflik karena adanya pelanggaran akidah”.
Pendapat ini senada dengan sebagian gusdurian (para pengikut Gus Dur). mereka menyatakan bahwa apa yang dilakukan Gus Dur hanya sebatas pluralitas yang diaktualisasikan dengan sikapnya selama ini, dan tidak sampai pada pluralisme. Ini berbeda dengan pendapat yang kontra dengan Gus Dur. Mereka malah beranggapan sebaliknya.
Terlepas dari pro-kontra apakah Gus Dur menganut paham pluralisme sebagaimana yang didefinisikan MUI atau tidak, rasanya gelar “bapak pluralisme” tidak tepat diberikan oleh seorang Presiden. Sebagaimana telah diketahui bahwa pluralisme sudah diharamkan oleh MUI. Sehingga Presiden yang notabene seorang muslim tidaklah layak memberikan gelar kepada seseorang dengan apa yang diharamkan oleh MUI. Apalagi diberikan kepada seorang tokoh yang mempunyai pengikut yang fanatik seperti Gus Dur.
Pemberian gelar “bapak pluralisme” sesungguhnya mengacaukan makna pluralisme itu sendiri. Terlebih bagi simpatisan atau pengikut Gus Dur. Apalagi sebagian besar dari mereka tidak tahu apa itu pluralisme, atau bahkan baru dengar ketika Presiden menjuluki “bapak pluralisme” kepada Gus Dur. Mereka cenderung apriori dengan apa yang disandang oleh orang yang diidolakannya, dan menganggap apa yang ada padanya adalah selalu hal yang baik. Inilah pentingnya mengetahui definisi satu hal sebelum berpolemik atau mengeluarkan pendapatnya. Sehingga tidak salah dan membuat orang lain salah. Wallahu a’lam


0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger