Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

POLITIK DALAM PANDANGAN BARAT DAN ISLAM

POLITIK DALAM PANDANGAN BARAT DAN ISLAM
(Oleh: Hasanal Khuluqi)

Pendahuluan
Segala sesuatu yang berkaitan dengan norma-norma kehidupan manusia, semuanya telah di atur dalam Islam. Tidak ketinggalan pula bahwa Islam juga telah mengatur bagaimana cara berpolitik yang benar, yang sesuai dengan tuntunan syari’ah. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa Islam adalah agama yang mengikat segala sesuatunya dengan aturan agama. Dalam Islam tidak dikenal adanya penghalalan segalaa cara hanya demi untuk meraih tujuan yang diharapkan. Islam tidak hanya melihat hasil tetapi juga proses untuk mendapatkan hasil.
Oleh karena itu didalam berpolitik pun seorang politisi maupun pemimpin Islam diharuskan berpegang dengan rambu-rambu syariah dan akhlak mulia. Dengan kata lain, bahwa segala cara berpolitik yang bertentangan dengan syariah atau melanggar norma-norma agama dan akhlak Islam, maka ia dilarang.
Islam adalah agama sempurna, di dalamnya mencakup semua aspek, semuanya telah di atur sedemikian rupa dalam Islam.  Tentunya sebagai agama yang mencakup semua aspek kehidupan, Islam tidaklah melupakan atau meninggalkan permasalahan politik, yang dikenal dengan istilah “siyasah”. Secara etimologi, siyasah (politik) memiliki makna yang berkaitan dengan negara dan kekuasaan. Disebutkan bahwa ia adalah upaya memperbaiki rakyat dengan mengarahkan mereka kepada jalan selamat di kehidupan dunia maupun akherat serta mengatur urusan-urusan mereka.

Tafsir Barat Atas Politik
Ketika kita membicarakan tentang Barat, maka kita akan mengingat sokoguru dari peradaban Barat itu sendiri. Barat yang saat ini bisa dikatakan menguasai segala lini kehidupan manusia seantero dunia ternyata mereka tidak memiliki orisinalitas peradaban, karena peradaban mereka terbentuk dari Yunani-Romawi, Judeo-Kristen. Ada satu lagi peradaban yang ini tidak pernah di akui oleh Barat sebagai soko guru peradaban mereka adalah peradaban Islam. Barat menjadi besar ketika telah bersentuhan dengan Islam, dan mereka tidak mau mengakui akan kenyataan tersebut.
Islam telah mengajarkan pada Barat tentang rasionalisme, empirisme dan berbagai metode eksperimen yang kemudian menjadi pondasi akan intelektualnya di masa sekarang ini. Barat yang saat ini berpenampilan gagah seakan dunia telah ada dalam genggamannya, ternyata ia lahir sebagai produk konvergensi berbagai peradaban.
Dalam masalah politik, pengaruh filsafat politik Yunani akan sangat tampak pada karya-karya pemikir Barat. Tidak hanya dalam berpolitik, dalam beragama pun Barat telah banyak terpengaruh oleh budaya Yunani yang memandang bahwa agama bersifat duniawi, praktis, dan mengabdi pada kepentingan manusia (bukan Tuhan). Sedang Romawi menyumbang teori imperium dalam pemikiran politik Barat, teori ini membahas tentang kekuasaan dan otoritas Negara. Dalam teori tersebut disebutkan bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat dan penguasa politik adalah lembaga yang dipercaya memegang kedaulatan demi kebaikan seluruh rakyat.
Disamping Yunani dan Romawi, kebudayaan yang mewarnai dunia politik Barat adalah budaya Yudeo-Kristiani. Pengaruh Yahudi terhadap budaya Barat berawal dari sisi perekonomian, di mana mereka menguasai perdagangan, perbankan, serta ekspor-impor. Kemudian berikutnya, mereka mulai menggarap dunia pendidikan, pengajaran, dan publikasi ilmiah, dari sini mereka dapat mengembangkan mainstream pemikiran yang pada akhirnya sangat mempengaruhi pemikiran politik Barat.
Sedangkan Kristiani memiliki pengaruh yang sangat kental terhadap peradaban Barat, hal ini di tandai dengan adanya dominasi Gereja yang mengambil alih otoritas kekuasaan sesaat setelah imperium Romawi runtuh. Akibat dominasi gereja yang totaliter, timbullah paham sekularisme yang kemudian di apresiasi oleh Barat bahwa agama hanya di wilayah spiritual saja sedangkan kehidupan duniawi tidak membutuhkan kehadirannya.

Politik Dalam Islam
Politik di dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah siyasah. Oleh sebab itu, di dalam buku-buku para ulama salafush shalih dikenal istilah siyasah syar’iyyah. Rasulullah SAW sendiri menggunakan kata politik (siyasah) dalam sabdanya : "Adalah Bani Israil, mereka diurusi urusannya oleh para nabi (tasusuhumul anbiya). Ketika seorang nabi wafat, nabi yang lain datang menggantinya. Tidak ada nabi setelahku, namun akan ada banyak para khalifah" (HR. Bukhari dan Muslim). Dari hadits tersebut, teranglah bahwa politik atau siyasah itu makna awalnya adalah mengurusi urusan masyarakat.
Ketika seorang telah masuk dalam dunia politik, maka secara otomatis ia harus bisa memperhatikan kondisi kaum muslimin dengan cara menghilangkan kezhaliman penguasa pada kaum muslimin dan melenyapkan kejahatan musuh kafir dari mereka. Maka dari itu, perlu kiranya sebagai muslim yang berada di bawah kepemimpinan uli al amri untuk mengetahui apa yang mereka lakukan kaitannya dengan segala urusan kaum muslimin. Hal ini ditujukan semata-mata untuk mengingkari keburukannya dan menasihati pemimpin yang mendurhakai rakyatnya serta memeranginya pada saat terjadi kekufuran yang nyata.
Para ilmuwan Barat sendiri telah mengakui bahwa politik adalah sesuatu yang inheren dalam Islam dan kehidupan muslim. Sebagaimana yang di katakana Dr. V. Fitzgerald yang di kutip oleh Amatullah Syafiyyah dalam bukunya Kiprah Politik Muslimah “Islam bukanlah semata agama, namun juga merupakan sebuah system politik. Meskipun pada decade-dekade terakhir ada beberapa kalangan dari umat Islam mengklaim sebagai kalangan modernis, yang berusaha memisahkan dua sisi itu, namun seluruh gugusan pemikiran Islam dibangun di atas fundamen bahwa kedua sisi itu saling bergandengan dengan selaras dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain”.

Penutup
Islam memandang bahwa antara agama dan politik berintegrasi, hal ini dikuatkan dengan statement yang disampaikan oleh Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, beliau mengatakan bahwa di dalam Islam Tuhan bukan saja al-Rabb (The creator atau pencipta) tetapi juga al-Ilah (master and law giver), yang di sembah dan member hukum kepada manusia. Hukum Tuhan (syariat) itu mencakup semua aspek kehidupan manusia, dan wajib ditaati oleh semua hamba-Nya. Para rasul, terutama Nabi Muhammad saw., bertugas menyampaikan risalah agar hukum Tuhan itu dilaksanakan oleh hamba-Nya sambil memberikan teladan kepada umatnya bagaimana seharusnya hukum Tuhan itu ditaati” (baca: Islam dan Kedaulatan Rakyat).
Dengan demikian, karena perbedaan paradigm yang sangat berbeda antara Islam dan Barat, maka tentu saja gambaran tentang system politik transcendental dalam pemikiran Barat diametral berbeda dengan konsep Islam. Jika konsep Teokrasi Barat memandang seorang kepala Negara adalah sebagai jelmaan kekuasaan Tuhan, dan menetapkan hukum atas nama Tuhan, maka dalam Islam seorang kepala Negara adalah sebagai pemegang amanat Allah yang diangkat oleh rakyat, untuk menjalankan hukum Allah.

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger