Blog e arek Mblitar..
ISLAM CORNER | HANDPHONE | WINDOWS TRICK | SEO | SOFTWARE | VIRUS | ISENG | CBOX TRICK | CSS TUTORIAL | HACKING | BLOGGING TIPS | INTERNET | HTML TUTORIAL |

Transcendent Unity of 'Left Ideologies'

Transcendent Unity of 'Left Ideologies'
Oleh. Hasanal Khuluqi

Meminjam teori Frithjof Schoun Transcendent Unity of Religion's yang mengatakan bahwa agama-agama memiliki dua relaitas atau hakikat; esoteric (hakikat batiniyah) dan exoteric (hakikat lahiriyah) yang keduanya dipisahkan oleh garis horizontal yang memisahkan antara agama yang satu dengan yang lain sehingga yang di atas garis adalah esoteric dan yang dibawahnya adalah exoteric.[1] Artinya pada tataran exoteric agama-agama memang memiliki keragaman dan perbedaan tapi memiliki kesamaan dan menyatu pada tataran esoteric yaitu Tuhan.
Tapi, maksud dari judul di atas adalah adanya kesamaan esensi pada ideologi-ideologi kiri meski dalam bentuk dan tampilan berbeda-beda dan beragam. Dan yang akan menjadi pembahasan tulisan ini adalah korelasi antara ideologi modern liberal dengan ideologi klasik jahiliyah yang ada pada awal kemunculan Islam di Jazirah Arab khususnya dalam hal penyikapan terhadap teks Al-Qur'an Al-Karim.
Hermeneutika Al-Qur'an
Adalah Nasr Hamid Abu Zaid pemikir kontemporer, mendudukkan teks ilahi yang merupakan wahyu menjadi teks insani layaknya teks-teks yang lain, sehingga dengan demikian ia bisa memberikan interpretasi, analisa, dan kritik terhadap teks tersebut sebagaimana yang ia lakukan terhadap teks-teks lainnya. Al-Quran bukan lagi teks Tuhan yang sakral, tapi telah bergeser menjadi teks manusia yg nisbi dan maknanya selalu berubah, karena telah masuk dalam pemahaman manusia yang relatif. Dan yang mutlak dan sakral adalah Al-Quran yg mentah di alam metafisika) Lawh Mahfudz), yang tidak pernah diketahui sedikit pun tentangnya, melainkan yg disebutkan oleh teks itu sendiri. Sejak turun, dibaca dan dipahami Nabi, Al-Quran telah bergeser kedudukannya dari teks Tuhan menjadi teks manusia. Hal ini disebabkan al-Quran telah berubah dari wahyu menjadi interpretasi.[2] Karena menurut Abu Zaid, jika teks-teks ilahi masih bersikukuh dengan karakter ilahinya maka manusia tidak akan mampu memahaminya tanpa intervensi Tuhan (Inayah Ilahiyah).[3] Konsekuensinya dari teori ini, Al-Qur'an hanyalah sebatas teks linguistik, historis yang relatif, temporal, kondisional dan senantiasa berevolusi seiring dengan kecenderungan penafsir dan zaman.
Contoh dari hasil metode tafsir ini adalah QS. Al-Ahzab:59 yang menyatakan kewajiban hijab bagi setiap muslimah, "Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". Menurut Muhammad Shahrur yang juga menganut metode ini, "Ayat ini didahului dengan lafadz 'Hai Nabi' yang berarti bahwa ayat ini adalah ayat pengajaran (Ta'limi) dan bukan ayat pemberlakuan syariat (Tasyri'). Di sisi lain, ayat yang turun di Madinah ini harus dipahami dengan pemahaman temporal, karena terkait dengan tujuan keamanan dari gangguan orang-orang iseng, ketika para wanita tengah bepergian untuk suatu keperluan. Namun, syarat-syarat ini (yaitu alasan keamanan) sekarang telah hilang semuanya".[4]

Karena ayat di atas adalah ayat Ta'limi yang bersifat anjuran, maka menurut Shahrur, hendaknya bagi wanita mukminah (dianjurkan bukan diwajibkan) untuk menutup bagian-bagian tubuhnya yang bila terlihat menyebabkannya adanya gangguan. Ada dua jenis gangguan: alam (Thabi'i) dan sosial (Ijtima'i). Gangguan alam terkait dengan cuaca seperti suhu panas dan dingin. Maka wanita mukminah hendaknya berpakaian menurut kondisi cuaca, sehingga ia terhindar dari gangguan alam. Sedangkan gangguan sosial terkait dengan kondisi dan adat istiadat suatu masyarakat, maka pakaian mukminah untuk keluar menyesuaikan dengan lingkungan masyarakat, sehingga tidak mengundang cemoohan dan gangguan mereka.[5]
Sikap kaum Quraisy terhadap Al-Qur'an
Pandangan Nasr Hamid Abu Zaid bahwa Al-Qur'an hanyalah teks insani biasa yang bersifat linguistik, relatif dan temporal, ternyata memiliki kesamaan dengan apa yang pernah dikatakan oleh orang-orang kafir Quraisy pada awal kemunculan Islam di Makkah. Mereka tidak mempercayai (mengimani) Al-Qur'an yang dibawa Rasulullah Shallallhu 'alaihi wasallam sebagai wahyu dari Allah Azza wa Jalla, tetapi hanya sekedar syair (syi'run), mantra sihir (sihrun yu'tsar), perkataan manusia biasa (qaul al-Basyar) dan mitos belaka (Asathir al-Awwalin). Padahal Allah tegaskan dalam firman-Nya, "Dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung, sedikit sekali kamu mengambil pelajaran daripadanya. Tetapi Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam.(QS.Al-Haqqah): 41-43).
Hanya saja, penolakan kaum Quraisy terhadap Al-Qur'an pada saat itu tidak ada tindak lanjutnya dengan melakukan serangan terhadap Al-Qur'an, kecuali pada masa-masa berikutnya dengan membuat ayat-ayat tandingan yang dilakukan oleh Musailamah. Sedangkan Nasr Hamid Abu Zaid menindak lanjuti penolakannya tersebut dengan melakukan dekonstruksi terhadap penafsiran Al-Qur'an yang dilakukan oleh para Mufassirin yang telah ada sebelumnya. Dua hal ini memiliki perbedaan dalam hal form dan kesamaan dalam hal esensi yaitu kekufuran, sangat tepat sekali jika dikatakan Al-Kufru Millatun Wahidah (segala bentuk kekufuran berada dalam satu Millah).
Wajibatuna Nahwa l-Qur'an
Sikap kaum Quraisy yang enggan menerima Al-Qur'an sebagai wahyu dari Allah sempat dikeluhkan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah Azza wa Jalla dalam surat Al-Furqan:30, "Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan". Keluhan Nabi ini sepertinya terulang kembali dengan sikap umatnya terhadap Al-Qur'an di akhir zaman.
Sebagai orang telah beriman kepada Al-Qur'an, maka selayaknya melakukan pembelaan terhadap Al-Qur'an dari serangan-serangan yang diarahkan kepadanya. Banyak membacanya, mengkajinya, dan mengamalkannya sebagai wujud dari keimanan kepadanya.







[1] Frithjof Schoun, Transcendent Unity of Religion's, Terj. Theosophical Publishing House: Wheaton, 1984. p.xii.
[2] Henri Shalahuddin, Al-Qur'an dihujat, Al-Qolam: Jakarta, 2007. hal.34-35
[3] Nasr Hamid Abu Zaid, Kritik Wacana Agama, Terj. Khoiron Nahdiyyin, Lkis: Yogyakarta, 2003. hal.215.
[4] Dr. Muhammad Sharur, Nahwa Ushulin Jadidatin li l-Fiqh Al-Islami: Fiqh al-Mar'ah (Al-Washiyah – Al-'Irdh – Al-Qawamah – Al-Ta'addudiyah – Al- Libas), Al-Ahali, Damaskus, cet I, 2000, hal. 372
[5] ibid, hal. 373

0 comments:

TULIS KOMENTAR ANDA..!!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger